01 June 2014

Piknik Pearl River Delta - Hong Kong (Bagian 1)

Akhir Mei 2014, saya berkesempatan pergi ke daerah Pearl Delta Cina, yaitu kota Hong Kong, Macau dan Shenzhen yang termasuk dalam provinsi Guangzhou di Tenggara Cina. Perjalanan ini menjadi spesial karena untuk pertama kalinya saya menggunakan full service carrier Garuda Indonesia, setelah sebelumnya selalu menggunakan low cost carrier grup AirAsia untuk perjalanan keluar negeri. Kebetulan saya mendapatkan harga tiket promo pada pameran travel bulan Februari lalu, US$290 atau sekitar Rp3.500.000,00 pulang-pergi.

Perjalanan menuju Bandar Udara Internasional Chek Lap Kok, Hong Kong ditempuh 5 jam dari Jakarta. Saya pergi bersama teman saya Reza menggunakan pesawat Garuda Indonesia A330, GA-876 dengan nomor pesawat PK-GPK dan take-off tepat waktu pukul 23.45 WIB. Penerbangan malam itu tidak penuh penumpang, hanya terisi sekitar 70%. kami menempati kursi kedua paling belakang. Karena banyak kursi yang kosong beberapa penumpang pindah dari tempat duduk yang tertera dalam boarding pass mencari tempat duduk lain yang kosong. Pramugari mengizinkan hal ini.

Sekitar pukul 05.30 waktu setempat, pesawat akhirnya mendarat di Bandar Udara Internasional Hong Kong. Cuaca pagi itu mendung karena memang masih ada depresi udara di Laut Cina Selatan yang berakibat pada tingginya curah hujan di Pearl Delta seminggu terakhir ini. Pesawat kemudian terhubung dengan garbarata dan penumpang segera disembarkasi. Setelah keluar pesawat kami duduk sebentar di ruang tunggu sembari mengisi kartu kedatangan. Pada saat itulah saya menyadari ponsel saya tertinggal di kursi pesawat.

Saya lalu bergegas kembali ke pintu gerbang kedatangan, tapi sial, pintu tersebut sudah tutup yang menandakan semua penumpang sudah turun. Setelah kami mengisi kartu kedatangan dan keluar imigrasi serta bea cukai, saya lalu bertanya ke bagian informasi dimana saya bisa mencari barang yang tertinggal di pesawat. Oleh petugas saya diminta untuk menghubungi agen Garuda Indonesia di bandara Hong Kong, yaitu Jardine yang beralamat di Ruang 101, Lt. 6. Terminal 1 Bandar Udara Internasional Hong Kong.

Sesampainya di sana, petugas berusaha menghubungi petugas ground handling, namun belum ada laporan dari awak pesawat Garuda Indonesia yang menemukan barang tertinggal di pesawat. Saya lalu diminta untuk menghubungi mereka kembali nanti sore/malam dan diberikan nomor telepon.

Tujuan pertama kami hari ini adalah kereta gantung Ngong Ping 360º yang berlokasi di Pulau Lantau, masih satu pulau dengan Bandar Udara Internasional Hong Kong. Tapi karena wahana tersebut baru buka pukul 10.00, saya menyempatkan mandi di salah satu lounge bandara. Biaya sewa bilik mandi di bandara ini cukup mahal, HK$200 atau sekitar Rp350.000,00. Waktunya pun dibatasi hanya 20 menit. Ini rekor mandi di bandara paling mahal yang pernah saya alami. Sebagai perbandingan di bandara Changi, Singapura biaya sewa “hanya” SG$8 atau Rp80.000,00 sedangkan di bandara Kansai, Jepang “hanya” ¥500 atau Rp50.000,00 untuk 30 menit.

Selesai mandi saya membeli Octopus Card on loan, kartu prabayar multifungsi yang bisa digunakan membayar hampir apapun di Hong Kong, mulai transportasi, belanja kelontong, hingga untuk beli makan di restoran. Tempat yang disarankan untuk membeli Octopus Card adalah pusat pembelian di sebelah utara bandara. Biaya pembelian untuk jenis on loan (disewakan) adalah $150, yang terbagi atas biaya sewa HK$50 yang dapat dikembalikan dan saldo HK$100 untuk digunakan. Jika masih ada sisa saldo, cukup kembalikan ke tempat ini dan uang anda akan dikembalikan, hanya dipotong HK$9 untuk biaya administrasi. Saya menambahkan HK$200 lagi sebagai saldo.

Kami lalu naik bus Nomor 1 tujuan Ngong Ping. Hampir seluruh bus di Hong Kong adalah bus tingkat, tapi kondisinya jauh lebih baik dibandingkan dengan pengalaman saya naik bus tingkat di Jakarta pada awal 1990-an silam. Pembayarannya bisa dengan uang cash atau Octopus Card. Jika tunai, harap perhatikan tidak tersedia uang kembalian (atau mesin penukar receh seperti bus di Jepang) dan tidak ada tanda terima (misalnya Rapid Penang di Malaysia), jadi bayar dengan uang pas dan masukkan ke kotak uang di samping sopir.

Di Citygate Outlet, yaitu salah satu mall, kami menitipkan tas di loker koin di lantai basement. Biayanya HK$40 untuk 4 jam. Mall Citygate Outlet dan loker ini populer di kalangan turis yang mengunjungi Hong Kong. Menariknya saya bisa membayar sewa loker menggunakan Octopus Card.

Loker Koin di Basement Citygate Outlet Mall

Dengan bawaan lebih ringan, kami lalu membeli tiket untuk naik kereta gantung Ngong Ping 360º. Walaupun baru pukul 10.30, antrean sudah sangat panjang. Kami akhirnya baru bisa naik salah satu kereta gantung pukul 11.30. Untungnya pemandangan dalam perjalanan ke atas sepanjang 5,7 km indah dan memakan waktu 25 menit, jadi kami tidak merasa sia-sia mengantre lama.

Band Udara Internasional Hong Kong dilihat dari Kereta Gantung

Dalam perjalanan ke atas hujan deras turun, tapi untungnya di desa Ngong Ping cuaca hanya kabut tebal. Setelah turun, kami lalu bergegas untuk berkeliling desa wisata ini. Tidak banyak yang bisa dilihat karena kabut. Kami hanya mengunjungi Philosopher’s Path yaitu patok kayu raksasa yang dituliskan 108 sifat-sifat agung Buddha, dan Po Lin Monastery yaitu sebuah biara aktif di desa Ngong Ping. Kami tidak mengunjungi Giant Buddha karena selain patungnya tidak terlihat juga karena khawatir turun hujan deras sementara kami tidak membawa payung.

Ngong Ping Village

Philosopher's Walk




Puas berkeliling kami segera turun. Berbeda ketika naik tadi dimana satu kereta diisi 10 orang, kereta kami sekarang hanya diisi kami berdua. Tidak ada antrean sehingga kami bisa menikmati wahana ini. 25 menit kemudian, kami tiba di stasiun awal. Antrean pengunjung tetap panjang seperti kami tinggalkan tadi.

Setelah mengambil kembali tas di loker, kami putuskan kembali ke bandara untuk bertanya apakah ponsel saya sudah ditemukan. Sayangnya ketika saya cek ke sana tetap tidak ada laporan. Kembali saya diminta untuk menghubungi mereka malam hari nanti atau besok pagi. Karena cukup lelah, akibat kurang tidur dan capek mengantre kereta gantung, kami putuskan untuk check-in ke hotel. Dari bandara kami naik bus A21 tujuan Tsim Sha Tsui. Karena cukup jauh dan tujuan kami ada di pulau yang berbeda, perjalanan ditempuh selama hampir 1 jam.

Setelah turun di Nathan Road, Tsim Sha Shui, kami lalu mencari makan siang dan menemukan Yoshinoya, sebuah restoran gyudon yang akrab dengan kami karena pernah mencobanya di Jepang dan telah buka cabang juga di Indonesia. Setelah kenyang, kami lalu check-in di Golden Crown Guesthouse yang berjarak hanya 50 meter dari restoran tersebut lalu beristirahat.

Malam harinya kami keluar makan malam katsu di Tonkichi Tonkatsu di Causeway Bay, Central. Kami pergi pukul 19.30 dengan naik MTR melalui stasiun Tsim Sha Shui lalu turun di Causeway Bay. Agak sulit menemukan gedung World Trade Center tempat restoran ini berlokasi, tapi berkat aplikasi TripAdvisor kami bisa menemukannya.

Tonkatsu Premium



Saya memesan Tonkatsu Premium seharga HK$198. Restoran ini menggunakan minyak nabati untuk proses penggorengannya yang diklaim lebih sehat dibanding dengan minyak goreng biasa. Menurut saya rasanya cukup lezat, daging terasa lembut dan tidak terasa minyaknya. Jika dibandingkan dengan Rikku Tonkatsu di Hakone, memang ukuran tonkatsu di restoran ini lebih kecil. Supnya pun biasa, hanya berisi tahu dan rumput laut. Tapi untuk restoran katsu di luar Jepang, cita rasanya lumayan.

Setelah kenyang, kami pun kembali ke hotel untuk beristirahat. Sebelum tidur, kami membeli tiket kapal ke Macau besok pagi.
Post a Comment