23 November 2013

Piknik Bangkok - 17 November 2013 - Bangkok (Bagian 1)

Kami bangun agak siang hari ini, dan setelah bersiap-siap kami lalu sarapan di restoran hotel di lantai 12. Menu makanan yang disajikan pihak hotel cukup beragam, baik sajian makanan Asia maupun barat. Kami sampai lebih dari sekali mengambil makanan karena kami butuh banyak tenaga untuk perjalanan hari ini. 

Karena Loy Krathong baru dirayakan malam nanti, maka kami putuskan untuk berkeliling ke destinasi wisata yang terkenal di Bangkok. Tujuan pertama kami adalah วัดสระเกศราชวรมหาวิหาร (Wat Saket atau Golden Mount) yang tidak jauh jaraknya dari Hotel Centra Central. Dari hotel kami naik taksi dengan alasan selain tidak jelasnya akses transportasi publik ke daerah itu, juga ditunjang dengan murahnya tarif taksi di kota ini. Apalagi, kami berempat sehingga ongkos taksi tersebut menjadi lebih murah lagi.

Wat Saket
Taksi di Bangkok tidak seperti taksi di Indonesia atau Vietnam yang mempunyai beberapa perusahaan taksi yang terpercaya. Di Bangkok, tampaknya semua taksi di sini menggunakan meter pada siang hari. Namun ketika malam, mereka menolak menggunakan meter dan menetapkan harga sesuai pertimbangan sendiri. Mungkin karena tarif taksi yang tergolong murah jika dibandingkan negara lain, sehingga mereka suka-suka sendiri apakah ingin memakai meter atau tidak.

Cukup 10 menit kami naik taksi dan kemudian kami tiba di gang masuk ke Wat Saket. Ongkos taksi 45 Baht, cukup murah. Harga karcis masuk Wat Saket adalah 20 Baht per orang. Kuil Wat Saket adalah stupa setinggi 58 meter dengan mahkota emas di atasnya. Kami menaiki 318 anak tangga untuk menujuk ke mahkota kuil. Sebelum ke bagian atas kuil, kami memasuki sebuah ruangan di bawah mahkota di mana banyak pemeluk agama Buddha yang bersembahyang di depan altar yang dilengkapi dengan patung Buddha. Dua orang Biksu kuil melapalkan doa dalam bahasa Thai yang menambah kekhusyukan dalam beribadah. 

Kami lalu berkeliling di ruangan ini sebelum naik ke mahkota. Ada beberapa penjual di sini yang mayoritas menjual perlengkapan umat dalam beribadah. Kami lalu bergegas ke puncak stupa tempat mahkota emas berada. Ketika kami mengunjungi tempat ini, mahkota sedang dibungkus dengan tirai merah. Saya tidak mengerti maknanya, mungkin sedang dalam pemeliharaan.

Mahkota Wat Saket
Di bagian puncak stupa Wat Saket, kami dapat melihat berbagai penjuru kota Bangkok, seperti kawasan Rattanakosin tempat Grand Palace dan tempat-tempat bersejarah lainnya berada. Setelah menghabiskan beberapa waktu di sini, kami lalu beranjak ke lokasi beikutnya, yaitu kawasan Rattanakosin. 

Kami sempat bertanya kepada seorang juru parkir di sini mengenai arah ke kawasan Rattanakosin, namun ia menyarankan kami naik tuk-tuk hingga dermaga perahu terdekat lalu menggunakan perahu sewaan untuk mengunjungi kawasan Rattanakosin dengan harga 3.000 Baht atau sekitar Rp1.000.000 untuk perjalanan selama 30 menit. Alasannya adalah selain cukup jauh jika berjalan kaki, kami akan melewati kawasan aksi unjuk rasa anti Pemerintah di Victory Monument. Kami hanya mengiyakan dan mengikuti petunjuk arahnya untuk keluar dari Wat Saket. 

Berbekal peta brosur yang dimiliki Richard dan Mbak Tina, kami lalu berjalan kaki ke arah Rattanakosin. Pedestrian di kota ini cukup baik dengan trotoar yang lebar dan kota yang rindang. Hal ini juga ditunjang dengan infrastruktur jalan raya yang cukup lebar jika dibandingkan dengan jalan di Jakarta. 

Benar saja seperti yang dikatakan oleh juru parkir di Wat Saket, kami memang melewati Victory Monument yang menjadi pusat aksi unjuk rasa anti Pemerintah. Banyak pedagang kaki lima yang menjajakan aksesoris anti Pemerintah yang saat ini dipegang oleh PM Yinluck Shinawatra, adik dari mantan PM Thaksin Shinawatra yang digulingkan militer Thailand pada tahun 2006 lalu. Para pengunjuk rasa juga mendirikan tenda dan panggung orasi di tengah jalan sehingga kawasan tersebut praktis tidak bisa dilewati kendaraan bermotor. 

Tidak jauh dari Victory Monument, kami akhirnya tiba di Giant Swing, yaitu sebuah ayunan raksasa yang telah berumur lebih dari 200 tahun dan terletak di depan Wat Suthat. Ayunan ini dahulu digunakan dalam prosesi memuja Dewa Siwa. Giant Swing juga digunakan dalam kontes untuk mencari pria paling pemberani dalam bermain ayunan. Pria yang paling menjadi pemenang adalah orang yang berhasil mengambil kantong uang dari ujung tombak setinggi 25 meter di udara. Kontes ini akhirnya dilarang karena angka kecelakaan dan kematian menjadi terlalu sering.

Giant Swing
Kami tidak mengunjungi Wat Suthat karena waktunya tidak cukup, namun kami sempat membeli minuman dingin yang menyegarkan di depan kuil ini. Setelah berjalan beberapa saat ke arah barat, kami tiba di วัดพระแก้ว (Wat Phra Kaew) dan kawasan Grand Palace, tempat keluarga monarki Thailand berdomisili. 

Kementerian Luar Negeri Kerajaan Thailand
Kementerian Pertahanan Kerajaan Thailand
Dari pengamatan saya, ada beberapa turis asing yang menjadi korban scam yang mengatakan bahwa Grand Palace sedang tutup karena ada acara kenegaraan, dan mereka menawarkan temannya supir tuk-tuk untuk membawa turis yang 'sial' tersebut untuk berkeliling ke kuil lainnya yang tidak kalah indah. Pelaku menunggu korban di salah satu dari banyak pintu masuk yang dijaga tentara. Sayang sekali di jantung pariwisata Bangkok ini pihak berwenang tidak berbuat banyak untuk menghentikan aksi yang merugikan ini.

Kami berempat lalu masuk ke pintu masuk bagi turis yang terletak di sisi utara. Tiket masuk ke kawasan Grand Palace adalah 500 Baht atau sekitar Rp175.000. Cukup mahal, namun selain Grand Palace, tiket dapat digunakan untuk mengunjungi aset milik keluarga kerajaan seperti Wat Phra Kaew, Amanda Samakhom Throne Hall dan Vimanmek Mansion di kawasan Dusit dalam jangka waktu 7 hari setelah pembelian tiket.

Wat Phra Kaew
Wat Phra Kaew


Grand Palace

Di dalam, kami langsung berkeliling di Wat Phra Kaew dan Grand Palace. Sebagian besar waktu kami habiskan untuk mengambil foto di sini. Wat Phra Kaew merupakan tempat diletakkannya Buddha Zamrud, yaitu patung Buddha yang paling disucikan di seluruh Thailand. Untuk masuk ke kawasan ini, pengunjung diwajibkan berpakaian pantas, yaitu memakai rok atau celana panjang di bawah lutut. Pengelola menyewakan kain untuk dipakai wisatawan yang kebetulan tidak menaati peraturan ini.

Setelah puas mengabadikan berbagai sudut Wat Phra Kaew dan Grand Palace, tempat berikutnya yang kami kunjungi adalah วัดโพธิ์ (Wat Pho - Kuil Buddha Tidur) yang terletak di sisi Selatan kompleks Grand Palace dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Wat Pho termasuk kuil terbesar di Bangkok yang didirikan pada tahun 1832. Di dalamnya terdapat sebuah patung Buddha tidur raksasa dengan panjang 46 meter dan tinggi 15 meter yang dilapisi dengan emas. Diyakini ini adalah posisi Buddha ketika ia meninggalkan dunia dan akan memasuki Nirwana. Tiket masuk Wat Pho adalah 100 Baht atau sekitar Rp35.000. 

Wat Pho




Hari telah beranjak sore ketika kami ke destinasi berikutnya, yaitu วัดอรุณ (Wat Arun - Kuil Fajar) yang terletak di seberang แม่น้ำเจ้าพระยา (sungai Chao Phraya) pada sisi Thon Buri. Kami menggunakan perahu penyeberangan seharga 10 Baht atau sekitar Rp3.500. Kuil ini dibangun pada zaman Ayutthaya yang kemudian diperbesar oleh Raja Rama II dan Raja Rama III. Renovasi akhirnya selesai pada masa pemerintahan Raja Rama IV. Buddha Zamrud pernah ditempatkan di kuil ini sebelum Raja Rama I membangun Grand Palace dan Wat Phra Kaew di sisi Bangkok. 

Wat Arun


Fitur paling menonjol dari Wat Arun adalah pagoda utama setinggi 79 meter, Phra Prang, yang dikelilingi oleh empat pagoda yang lebih kecil di sekelilingnya. Ornamen pada pagoda utama dipenuhi dengan porselen yang akan bersinar terkena pantulan cahaya matahari. Walaupun nama harfiahnya Kuil Fajar, namun kuil ini sangat indah dilihat ketika senja tiba dengan matahari terbenam dan langit kemerahan menjadi latarnya.

Hari telah senja ketika kami kembali ke sisi Bangkok untuk naik perahu Chao Phraya Express menuju Asiatique Riverfront Mall, salah satu tempat perayaan Loy Krathong di Bangkok. Ketika kami menunggu kapan di dermaga, tampak beberapa warga sudah mulai melarung bunga ke sungai Chao Phraya. Akhirnya setelah menunggu sekitar 15 menit kami mendapat perahu yang sangat penuh menuju dermaga Sathorn.

Ketika kami tiba di dermaga ini, dermaga sudah sangat penuh dengan orang yang akan merayakan Loy Krathong. Karena tidak yakin apakah perahu ini akan melanjutkan ke Asiatique Riverfront Mall atau tidak, kami ikut turun karena sepertinya semua penumpang turun. Kami bingung bagaimana cara ke tempat tersebut, karena jalan raya pun macet total dan kami tidak bisa menggunakan taksi ke sana. 

Kami pun memutar arah dan kembali ke dermaga, namun di sebuah taman di stasiun BTS Sathorn kami melihat lampion yang diterbangkan oleh seseorang. Tidak lama, beberapa lampion lain juga beterbangan. Kami putuskan untuk menikmati Loy Krathong di sini saja dan membeli sebuah lampion kecil untuk diterbangkan. Sebelum menerbangkan lampion, kami berdoa terlebih dahulu.

Lampion ini dilengkapi dengan lilin di tengah yang akan menghangatkan udara di dalam lampion yang menciptakan daya angkat lampion agar bisa terbang. Kami berhasil menerbangkan lampion yang dibeli tersebut dan kemudian melihat orang lain melakukan usahanya. Ada beberapa juga yang gagal, menyangkut di pohon atau jatuh kembali ke tanah dan membakar lampion itu sendiri.  


Lampion Loy Krathong
Karena menyenangkan, kami membeli dua buah lampion lagi. Dan kesemuanya bisa terbang. Namun tidak lama kemudian, aparat keamanan Bangkok datang dan melarang orang-orang untuk menyalakan lampion di taman ini karena daerah sekelilingnya merupakan pemukiman penduduk dan sangat dekat dengan tiang dan kabel listrik. Tidak jarang ada lampion yang jatuh di atap rumah penduduk. 

Beberapa orang yang terlanjut beli lampion dan nekad menyalakan lampion didatangi polisi lalu lampion tersebut dipadamkan paksa. Sebagian lainnya, berpindah tempat ke sisi taman yang dekat dengan dermaga Sathorn dan berusaha menerbangkan lampion dari sana. Karena hari sudah malam dan kami belum makan malam, akhirnya kami putuskan untuk ke daerah Silom dengan menggunakan BTS. Kami sempat melihat aksi kucing-kucingan antara polisi dan warga serta turis. 

Stasiun Sathorn sangat penuh malam ini, dan dengan penuh perjuangan kami berhasil membeli karcis dan akhirnya naik kereta ke stasiun Silom, di mana kami duga suasana tidak seramai Sathorn dan kami bisa membeli makan malam. Namun karena sudah lewat pukul 21.30, banyak tempat makan yang tutup. Akhirnya kami pilih makan di KFC.

Setelah kenyang saya, Mbak Tina dan Winis putuskan untuk kembali ke hotel terlebih dahulu, sedangkan Richard ingin berkeliling daerah Silom terlebih dahulu. Agak sulit mencari taksi yang mau berhenti, dan ketika berhenti tidak mau memakai meter. Saya berhasil membujuk supir taksi untuk memakai meter, dan ketika sampai di hotel saya memberikan tips lebih dari biaya yang tertera di meter taksi.

Richard kembali ke hotel sekitar pukul 23.30. Dan malam ini kami kembali berbincang hingga dini hari sebelum akhirnya terlelap
Post a Comment