23 November 2013

Piknik Bangkok - 16 November 2013 - Jakarta - Bangkok

Perjalanan ke Bangkok adalah perjalanan keluar negeri ke-4 saya di tahun 2013. Tadinya saya berencana untuk ke Thailand saat perayaan Songkran, pertengahan April tahun 2014. Tapi setelah Lebaran ada promo tiket AirAsia untuk penerbangan bulan Oktober - Desember 2013, dan saya mendapatkan tiket pesawat Rp1.130.000 pp. Kebetulan pada pertengahan November 2013 ada even besar lainnya, yaitu Loy Krathong yang diselenggarakan saat bulan purnama bulan ke-12 kalender Thailand. Tahun ini, bertepatan dengan tanggal 17 November 2013.

Awalnya saya berencana untuk pergi solo, tapi akhirnya saya pergi bersama teman-teman dari Surabaya, yaitu Winis, Richard dan Mbak Tina karena tertarik ikut merayakan Loy Krathong. Winis pergi dahulu pada tangal 14 November, sedangkan saya, Richard dan Mbak Tina baru tiba pada 16 November 2013 malam. Bagi saya dan Winis ini adalah pertama kalinya kami ke Thailand, sedangkan Richard rutin tiap tahun ke sana. Mbak Tina sudah ke Thailand pada bulan Agustus 2013 lalu.

Saya menumpang pesawat AirAsia QZ8320 ke Bangkok, berangkat dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pukul 16.45, namun baru take-off pukul 17.05 WIB akibat padatnya runway 07L. 3 jam kemudian, atau sekitar pukul 20.14 saya mendarat di Don Mueang International Airport yang berlokasi di utara kota Bangkok. Tidak ada perbedaan waktu antara Tangerang dengan Bangkok.

Sesuai jadwal, seharusnya saya dan Mbak Tina dan Richard tiba pada saat yang sama, yaitu pukul 20.00. Namun, pesawat dari Surabaya telat mendarat hingga pukul 21.00. Saya menunggu mereka datang di ruang tunggu kedatangan dan bersama-sama melalui proses imigrasi. Alasan lain saya menunggu mereka adalah karena saya harus mengisi formulir kedatangan, namun karena tidak membawa pulpen, formulir tersebut belum saya isi.

Richard dan Mbak Tina ternyata tiba bersama dengan rombongan anggota Backpacker Dunia dari Surabaya yang merencanakan liburan ke Thailand, Kamboja dan Vietnam Selatan. Saya, Richard dan Mbak Tina menginap di Centra Central Station, Bangkok, yang terletak di depan stasiun Hua Lamphong. Sebetulnya kami bisa menggunakan kereta api dari stasiun Don Mueang yang terletak di depan bandara. Namun karena kereta berikutnya baru tiba pukul 22.00 dan perjalanan menggunakan kereta lebih lama, akhirnya kami memilih moda transportasi lain, yaitu bus kota. Dari Don Mueang hingga stasiun Hua Lamphong bisa menggunakan bus nomor 29.

Teman-teman Backpacker Dunia juga ikut bersama kami hingga halte Mo Chit, karena mereka ingin mengunjungi Chatuchak Weekend Market dahulu. Kami hanya menunggu sebentar di halte sebelum bus kota nomor 29 tiba. Awalnya kami sempat ragu karena bus tidak AC dan tampak tua, namun takut menunggu lama bus berikutnya, kami naik bus tersebut.

Ketika kami masuk, bus agak penuh dengan penumpang, beberapa dari kami berdiri. Di dalam, bus memang tampak tua dan bobrok, hal ini dibuktikan dengan kursi yang sederhana dan lantai yang seluruhnya terbuat dari kayu! Jendela dibuka seluruhnya sebagai sirkulasi udara dan saya pastikan jika hujan akan tampias ke dalam. Tapi selain kekurangan tadi, banyak kejutan lain yang saya temukan.

Penerangan di dalam bus sangat baik, hampir seluruh sudut bus diterangi oleh lampu, bersih dan tidak tampak satu pun sampah di dalam bus. Pintu bus untuk naik-turun penumpang hanya satu, yaitu di tengah. Walaupun tampak reot, tapi pintu digerakkan secara elektronik oleh sopir! Kemudian hal menarik lainnya adalah kondektur seorang wanita, dan sopir pria. Kejutan terbesar adalah bus berjalan sangat cepat, dan tidak mengetem seperti bus di Jabodetabek. Kemudian jika penumpang ingin turun, cukup menekan tombol yang ada di hampir di seluruh baris kursi. Tombol ini nanti akan terlihat oleh sopir yang akan memberhentikan bus di halte berikutnya. Karcis bus juga tergolong murah, hanya 6,5 Baht per orang atau sekitar Rp2.500.

Bus Kota Nomor 29
Kurang lebih 20 menit kami berkendara, lalu lintas juga lancar, tidak tampak kemacetan Bangkok seperti yang banyak diberitakan di media massa. Bus dapat berjalan dengan kecepatan 60 - 80 km/jam. Akhirnya bus berhenti di halte Mo Chit dan semua penumpang turun, hanya tinggal saya, Mbak Tina dan Richard. Kemudian kondektur bertanya, kami mau kemana. Ketika kami utarakan hendak ke stasiun Hua Lamphong, kondektur bilang bahwa Mo Chit adalah pemberhentian terakhir dan seluruh penumpang harus turun. Kebingungan dan tidak ada pilihan lain, kami pun turun di halte ini.

Untungnya, halte Mo Chit terletak di depan pintu masuk Mass Rapid Transit Bangkok (stasiun Chatuchak Park). Kami lalu berpamitan dengan teman-teman Backpacker Dunia dan kami melanjutkan perjalanan ke stasiun Hua Lamphong memakai MRT. Ada pilihan lain, yaitu pakai BTS Skytrain, namun menyambung beberapa kali dan tetap memakai MRT juga pada akhirnya. Perjalanan dari stasiun Chatuchak Park hingga stasiun Hua Lamphong melewati 15 stasiun yang seluruhnya berada di bawah tanah dengan harga 40 Baht atau sekitar Rp15.000. Untuk naik, penumpang bisa membeli tiket di loket (sekalian tukar pecahan uang besar) atau via mesin penjual tiket. Jika membeli tiket untuk satu kali perjalanan, penumpang akan mendapatkan sebuah koin plastik. Untuk masuk ke peron, sentuhkan koin tersebut di mesin tiket dan gerbang akan terbuka. Ketika turun dan akan keluar dari peron, masukkan koin tersebut ke mesin tiket untuk membuka gerbang.

Pintu Masuk Stasiun Chatuchak Park Mass Rapid Transit Bangkok
Interior Mass Rapit Transit
MRT relatif lebih sepi penumpang jika dibandingkan dengan BTS Skytrain. Dan malam itu tidak tampak penumpang yang berdiri. Perjalanannya sendiri menurut saya nyaman dan keretanya bersih. 30 menit kemudian kami tiba di stasiun Hua Lamphong. Ketika kami keluar stasiun dan hendak menyeberang ke hotel, kami dicegah oleh polisi. Sempat heran ada apa ini, apakah ada jam malam sehingga kami dilarang berada di jalan selepas jam tertentu? Polisi hanya berbicara dalam bahasa Thailand, mungkin wajah kami mirip dengan warga lokal sehingga mereka tidak berbicara dalam bahasa Inggris. Akhirnya kami mengalah dan kembali ke stasiun. Ketika akan mengambil jalan lain ada juga warga Bangkok yang dilarang menyeberang. Kami pilih untuk menunggu dan berusaha mencari informasi ada apa sebenarnya.

Tidak lama kemudian ada iring-iringan perjalanan VIP. Namun yang membedakan dengan perjalanan VIP di Indonesia adalah tidak adanya sirine yang meraung-raung. Di Bangkok perjalanan tersebut senyap dan rombongan melintas cepat. Setelah berlalu, kami diperbolehkan untuk menyeberang jalan.

Kami pun tiba di hotel dan melapor ke resepsionis, Winis sudah check-in siang hari tadi. Kami cukup beruntung bisa menginap di Centra Central Station, karena mendapatkan penawaran yang menarik, yaitu 5,500 Baht untuk tiga hari dua malam + sarapan untuk empat orang. Kami akhirnya ke kamar yang terletak di lantai 11 dan bercengkerama dengan Winis hingga jauh dini hari sebelum akhirnya terlelap.

(bersambung)...
Post a Comment