01 June 2013

Piknik Jepang 21 Mei 2013 - Kyoto

Selasa pagi di Kyoto. Kami bangun agak pagi hari ini, karena kami merencanakan untuk mengunjungi salah satu pasar loak terbesar di Kyoto, yaitu 弘法さん (Kobo-san) di halaman kuil 東寺 (To-ji). Pasar ini berlangsung sepanjang hari pada tanggal 21 setiap bulannya sepanjang tahun. Kobo-san merupakan bentuk penghormatan atas seorang pendeta Shinto, 空海 (Kobo Daishi), yang ditempatkan di kuil To-ji oleh Kaisar Saga pada tahun 823 Masehi. Ia meninggal dunia pada tanggal 21 Maret, sehingga untuk memperingati haul Kobo Daishi diselenggarakan pasar loak setiap tanggal 21. Jumlah penjual yang berpartisipasi dapat mencapai 2.000 pedagang, tentunya dengan pembeli yang tidak kalah banyaknya.

Tadinya saya berencana pergi sendiri untuk berburu suvenir permintaan Ibu saya, namun ketika saya utarakan hal ini kepada teman-teman, mereka juga ingin ikut. Kami memulai perjalanan dari hostel pukul 07.00. Kota Kyoto masih terlelap karena jalanan masih sepi, hanya beberapa orang yang tampak di jalan. Kami berjalan kaki ke Stasiun Kyoto, dan baru terlihat di pagi hari ukuran stasiun yang masif dan terlihat megah. Jauh lebih besar bila dibandingkan dengan stasiun Gambir, Manggarai atau Jakarta Kota. Dari Stasiun Kyoto, kami menggunakan kereta api lokal Kintetsu tujuan Yamatosaidaiji dengan harga karcis ¥150. Stasiun Toji terletak hanya 0.9 km dari Stasiun Kyoto, tapi untuk menghemat waktu kami naik kereta. Kereta pagi itu juga masih sepi dan kami tiba di Stasiun Toji pukul 07.30.

Stasiun Kyoto yang Masif

Keluar dari Stasiun Toji tidak sulit untuk menemukan letak Toji, ikuti jalan ke arah kanan setelah keluar stasiun. Nanti akan terlihat 五重塔 (pagoda 5 tingkat). Di trotoar depan kuil, beberapa pedagang sudah bersiap membuka lapaknya. Namun berbeda dengan pedagang di Indonesia, mereka tidak sampai berjualan di badan jalan dan menutup pedestrian. Kami lalu masuk ke dalam kuil melalui pintu utama. Di dalam, pedagang sudah cukup banyak, namun sebagian besar masih mempersiapkan lapak mereka. Kami lalu berpencar untuk mencari "harta karun" yang terpendam di tempat ini. 


Tenda Pedagang Mulai Berdiri di Depan Paviliun Utama Toji


Salah Satu Sudut To-ji

Bagi saya sendiri ada beberapa item barang yang saya cari. Pertama adalah patung makhluk legenda Jepang, yaitu Tanuki. Wujud asli makhluk ini digambarkan sebagai racoon yang mempunyai kemampuan alih wujud menjadi hewan atau manusia. Ia diasosiasikan dengan keberuntungan yang dapat dilihat pada huruf kanji angka 8 di botol sake yang dipegangnya. Asosiasi keberuntungan lainnya yang ada pada diri Tanuki adalah:
  • Topi untuk melindungi diri dari masalah dan cuaca buruk;
  • Mata yang besar diartikan sebagai kepedulian terhadap lingkungan dan bijaksana dalam pengambilan keputusan;
  • Botol sake melambangkan standar moral yang tinggi;
  • Ekor yang besar sebagai bentuk penyeimbang diri dan kekuatan hingga kesuksesan diperoleh;
  • Testis yang besar melambangkan kekayaan;
  • Surat berharga melambangkan sifat amanah dan kepercayaan diri;
  • Perut besar diasosiasikan sebagai keberanian dan ketenangan dalam pengambilan keputusan; dan
  • Senyum yang ramah.
Patung Tanuki banyak dijual di toko-toko di daerah Arashiyama, tapi tentu harga kerajinan tangan ini mahal. Untuk itu saya mencari di pasar loak. Sebelumnya saya sempat riset mengenai harga, ada seorang warga negara Amerika Serikat yang membelinya dengan harga ¥2.500. Harga tersebut saya jadikan acuan ketika mencari patung Tanuki.  

Patung Kobo Daishi (Kobo-san)

Saya menelusuri labirin Kobo-san secara perlahan, karena item barang yang dijual di sini sangat beragam dan banyak, baik antik maupun modern, barang segar seperti sayuran hingga perkakas sehari-hari. Saya sempat menemukan seorang penjual yang salah satu dagangannya adalah patung Tanuki, ketika saya tanya harganya ¥4.000. Jika Kobo-san berlokasi di Asia Tenggara, besar kemungkinan saya bisa menawar, namun di Jepang dengan budaya harga tetap tidak bisa ditawar, menurut saya harga tersebut terlalu mahal, lagipula kondisi patung Tanuki-nya tidak terlalu istimewa. 

Sepeda Bekas Murah

Penjual Sayuran di Kobo-san

Pengrajin Yakiin (Cap Tradisional Jepang)

Penjual Jubah Tradisional

Saya lalu berkeliling lagi hingga halaman belakang kuil. Di sini saya menemukan seorang penjual dengan banyak pilihan bentuk dan ukuran patung Tanuki. Ketika saya tanya harganya (dalam bahasa Jepang), ternyata hanya ¥3.000, dengan ukuran cukup besar dan kualitas pembuatan yang baik. Saya setuju dengan harganya dan langsung membelinya. Item lain yang saya cari adalah norin (semacam kain yang jamak digunakan oleh restoran tradisional Jepang di depan pintu masuk) pesanan teman, namun di Kobo-san harganya sangat tinggi, sekitar ¥5.000-6.000. Saya putuskan untuk mencari di tempat lain saja.

Norin

Ketika hari beranjak siang ternyata makin banyak pedagang yang baru tiba di sini dan membuka lapaknya untuk mulai berjualan. Saya sempat menengok ke belakang bagian utama kuil dan tampak deretan penjual yang sangat panjang. Kobo-san baru akan dimulai.

Sekitar pukul 08.30, saya mencari teman-teman saya, dan menemukan mereka di dekat pintu masuk. Mereka bilang sudah setengah jam mencari-cari saya untuk memberitahukan hasil temuannya. Reza menemukan seorang pedagang salah satu barang yang kami cari, yaitu koper. Si pedagang menjual beragam tas dan salah satunya adalah koper bekas berukuran besar, yang ditawarkan seharga ¥700. Kami memang berencana membeli satu buah koper besar sebagai tempat oleh-oleh untuk keluarga dan kolega kami yang nantinya kami gabungkan agar menghemat tempat dan biaya bagasi. 

Koper pertama yang diberitahukan oleh Reza kepada saya berukuran lebih kecil, seharga ¥500, namun kami melihat ada koper lainnya yang lebih besar dan kemudian menanyakan harganya. Karena perbedaan ukuran yang cukup substansial dengan perbedaan harga yang sedikit, kami putuskan untuk membeli yang besar setelah mengecek kondisi luar dalam, dan hanya ditemukan sedikit cacat pada strap kemeja di dalamnya. Jika membeli baru, tas tersebut kami taksir seharga minimum ¥15.000. Koper ini menjadi rekor pembelian termurah kami selama di Jepang.

Di luar Kobo-san, kami sempat tertarik dengan sebuah lapak yang menjual 浴衣 (Yukata), baju tradisional musim panas Jepang. Namun karena tidak ada penjualnya setelah kami menunggu beberapa menit, kami kembali ke hostel untuk check-out dan bersiap untuk berkeliling Kyoto. Kami kembali naik kereta Kintetsu Kyoto Line ke Stasiun Kyoto.

Proses check-out berjalan lambat, karena kami harus merapikan barang-barang, mandi dan kemudian menitipkan tas di locker room hostel. Setelah itu kami sarapan di Sukiya sebelum memulai perjalanan hari ini. Karena hari sudah siang dan melihat antrean Raku-bus yang sangat panjang depan Stasiun Kyoto, saya putuskan untuk membalik rute perjalanan kami, yaitu tempat yang seharusnya dikunjungi terakhir menjadi dikunjungi pertama kali.

Kami naik kereta JR Sagano Line dengan karcis seharga ¥230 ke stasiun Saga Arashiyama. Stasiun ini merupakan pintu gerbang ke kawasan Arashiyama yang dahulu merupakan tempat pelesir Kaisar pada masa Heian (794 - 1192 Masehi). Kawasan ini terkenal dengan hutan bambunya yang mempesona. Ketika kami tiba, cuaca yang pagi tadi mendung berubah menjadi panas terik dengan suhu sekitar 30º C.

Stasiun Kereta Wisata Sagano

Keluar stasiun, kami sempat melihat ke dalam Stasiun Sagano untuk melihat kereta wisata Sagano. Kereta wisata ini melewati jalur yang eksotis dengan pemandangan pedesaan Kyoto. Karcis sekali jalan ¥600 dengan waktu tempuh 25 menit ke tujuan akhir Stasiun Kameoka. Pemandangan paling bagus adalah ketika bunga Sakura bermekaran di musim semi dan saat musim gugur ketika dedaunan berubah warna menjadi merah dan kuning menyala yang menjadikannya kontras dengan keadaan sekitarnya. Tapi kami putuskan untuk tidak naik kereta ini dan memilih untuk berjalan ke hutan bambu Arashiyama.

Sempat Tersasar dan Melihat Kereta Ekspres Kinosaki

Jalan ke hutan bambu Arashiyama terletak di samping Stasiun Sagano. Memang ada papan petunjuk ke sana, tapi ditulis dalam huruf kanji. Karena tidak yakin, kami mengikuti beberapa orang yang terlihat seperti turis berjalan ke arah sini. Cara ini terbukti manjur, walaupun saya sempat sok tahu dan salah membaca peta. Di jalan masuk ke hutan bambu, Adi sempat membeli es krim rasa 抹茶 (teh hijau) yang tersohor seharga ¥250. Kami sempat rehat sejenak di sini.

Antrean Es Krim Matcha


Hutan Bambu Arashiyama

Penutup Gorong-Gorong Bertema Daun Bambu

Setelah itu kami segera berjalan ke hutan bambu Arashiyama. Banyak pengunjung yang juga menikmati suasana di sini. Di kawasan Arashiyama ini saya menemukan becak yang ditarik dengan tangan. Namun tukang becak ini tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi, tapi merangkap peran sebagai pemandu wisata. Pelayanan mereka juga cukup baik, pengunjung yang biasanya dua orang diberi selimut untuk menghangatkan tubuh. Namun tidak perlu merasa kasihan, karena tarif mereka juga cukup layak, mulai dari ¥5.000 untuk 30 menit. Mereka tukang becak resmi yang mempunyai name tag sebagai tanda pengenal. Biasanya mereka 'mangkal' di depan pintu masuk ke kawasan wisata. Di Tokyo, jumlah mereka lebih banyak dibanding yang saya temukan di Arashiyama.

Becak Wisata di Arashiyama

Becak dengan Atap Terbuka

Tukang Becak Perempuan Sedang Istirahat

Selesai dari Arashiyama, kami segera pergi ke tujuan berikutnya, yaitu Kuil 鹿苑寺 (ろくおんじ) atau yang terkenal dengan 金閣寺 (Kinkakuji atau Paviliun Emas). Dari Arashiyama kami naik bus nomor 11. Saya kembali salah memberi referensi. Tujuan saya adalah halte Yamagoe Nakacho dilanjutkan dengan bus ke halte Kinkakuji-michi. Bus nomor 11 ternyata bukan tujuan Yamagoe Nakacho, tetapi bus itu bermula dari Yamagoe Nakacho.

Cara naik bus di Jepang berbeda dengan di Indonesia, Malaysia atau bahkan Singapura. Di sini, penumpang naik dari pintu belakang dan turun di pintu depan. Ketika naik, penumpang harus mengambil karcis dari mesin yang tersedia (kecuali sudah punya kartu berlangganan). Karcis ini bertuliskan angka yang menunjukkan golongan wilayah halte keberangkatan. Selanjutnya indikator harga LED di atas sopir akan berubah sesuai dengan jarak yang telah ditempuh. Tidak ada kondektur yang menarik uang, hanya ada sopir. Untuk membayar, di samping sopir ada mesin koin sebagai tempat membayar.

Lalu bagaimana jika saya tidak membawa uang receh? Hal ini sudah dipikirkan jalan keluarnya. Ada mesin penukar receh, cukup masukkan uang kertas pecahan ¥1.000 ke dalam mesin, dan recehan akan keluar dengan sendirinya. Jika ingin turun, masukkan uang receh sesuai dengan jarak beserta kertas yang diambil ketika naik tadi ke dalam mesin. Sopir akan memastikan jumlah uang yang dimasukkan sesuai dengan jarak. Tidak usah terburu-buru, sopir akan menunggu dan membantu penumpang hingga proses selesai dan tidak akan memarahi jika kita tidak tahu cara membayar bus di sini.

Selain itu, hal lain yang menarik adalah adanya Kyoto City Bus One-day Pass, yaitu tiket elektronik yang memungkinkan saya dan teman-teman untuk naik bus secara gratis di Kyoto seharian, dengan harga ¥500. Tiket dapat dibeli di mesin penjual di depan halte sentral di depan Stasiun Kyoto. Tempat penginapan di Kyoto juga banyak yang menjual tiket elektronik ini, seperti yang saya lakukan adalah membeli tiket tersebut di resepsionis Hostel Kyoto Hana. Namun ada batasan zona di mana pass tersebut dapat digunakan. Jika saya menggunakan bus di luar zona, maka tetap harus membayar, seperti yang saya lakukan untuk bus Arashiyama hingga halte Nishioji Oike.

Di halte Nishioji Oike, kami melanjutkan dengan bus No. 205 hingga Kinkaku-ji Michi. Karena sudah di dalam zona, kami menggunakan Kyoto City Bus One-day Pass. Untuk memakainya pertama kali, masukkan pass tersebut ke dalam mesin pembayaran yang terletak di samping sopir. Nanti mesin akan mencetak tanggal di belakang pass. Ambil kembali pass yang sudah tercetak tanggal tersebut. Jika lain kali naik bus di dalam zona, cukup tunjukkan pass beserta tanggal dibaliknya kepada sopir ketika turun. Jadi saya tidak perlu masukkan pass ke dalam mesin lagi. Kembali yang perlu diingat, naik dari pintu belakang dan turun di pintu depan.

Hidari Daimonji di dekat Kinkaku-ji

Di Kinkaku-ji Michi tidak sulit menemukan letak Kuil Kinkaku-ji, banyak petunjuk jalan yang tersedia, dan pengunjung yang keluar masuk kawasan dengan berjalan kaki. Kami mengikuti mereka dan tidak berapa lama sudah tiba di depan pintu masuk kuil. Harga tiket masuk ke kuil Kinkaku-ji adalah ¥500. Fitur utama dari Kinkaku-ji adalah paviliun emas yang terletak di tengah danau yang dikelilingi dengan taman bergaya Jepang. Sangat indah dan tampak megah.

Tiket Masuk Kinkaku-ji


Paviliun Emas Kinkaku-ji

Ketika berjalan di taman, saya menemukan pemandangan yang menawan hati. Beberapa gadis mengunjungi Kinkaku-ji menggunakan Yukata dan sandal geta lengkap, rambut disanggul dengan bunga sebagai pemanis seperti mode perempuan Jepang pada zaman dahulu. Mereka tampak anggun dan cantik yang menjadikannya kontras dengan pengunjung lain yang berpakaian modern. Banyak pengunjung, terutama turis asing, yang meminta untuk berfoto bersama mereka. Mereka ramah dan biasanya dengan senang hati memenuhi permintaan turis-turis tersebut. Tentu akan sulit menemukan gadis-gadis di Indonesia berjalan-jalan dengan menggunakan kebaya, misalnya, atau pakaian tradisional Indonesia lainnya ke tempat wisata. Mungkin karena faktor iklim dan kepraktisan juga pakaian tradisional Indonesia lebih bermakna simbolis yang hanya dipakai di waktu-waktu yang khusus.

Sekelompok Gadis Dengan Pakaian Tradisional Yukata

Setelah puas di Kinkaku-ji, kami melanjutkan ke tujuan berikutnya, yaitu Rute Filsafat ("Philosopher's Walk") menyusuri kanal antara Kuil 慈照寺 (Ginkakuji) dan Kuil 南禅寺 (Nanzenji). Dari halte Kinkaku-ji Michi ke Higashi-Tennocho kami naik bus No. 204. Perjalanan cukup panjang sekitar 50 menit. Saya sempat ketiduran berkali-kali di dalam bus. Ada hal yang menarik ketika saya naik bus ini. Di suatu perempatan, bus berbelok ke kanan, namun berhenti di tengah jalan. Setelah saya lihat, memang lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, dan warna hijau bagi pejalan kaki yang menyeberang. Jalanan cukup lengang siang itu, hanya ada dua orang anak sekolah dasar sedang menyeberang jalan sambil bercanda tanpa mempedulikan kehadiran bus. Sang sopir bus juga dengan sabar menunggu kedua anak tersebut sampai di pedestrian dan lampu berganti hijau sebelum melanjutkan perjalanan. Wow, pengguna jalan di sini tertib hukum dan menghormati hak-hak pejalan kaki. Jika di Jakarta, sopir yang tidak sabar akan mengklakson kedua anak itu dan melanggar lampu lalu lintas.

Pukul 3 sore, kami tiba di halte Higashi-Tennocho. Kami segera berjalan kaki menuju kanal melewati Sen-oku Hakukokan Museum. Ini adalah museum yang berisi koleksi seni keluarga Sumitomo, konglomerasi Jepang. Jika ingin disamakan dengan Indonesia, mirip dengan House of Sampoerna di Surabaya. Tidak jauh dari museum, kami sudah berada di samping kanal Kyoto dan berjalan ke arah kuil Ginkaku-ji. Sebetulnya banyak pohon sakura di tepi kanal, namun karena sudah di puncak musim semi, warna dedaunan kembali hijau, tidak pink seperti saat awal musim semi. Bagaimanapun, tetap menyenangkan berjalan santai di sore itu, terlebih kami berpapasan dengan beberapa gadis yang berjalan di tepi kanal dengan menggunakan yukata.

Sen-oku Hakukokan Museum

Philosopher's Walk

30 menit kemudian kami tiba di pintu masuk kawasan Ginkaku-ji. Namun, kami memutuskan tidak masuk ke sana, karena selain harus mengeluarkan biaya ekstra, ¥500, juga kuil ini sebetulnya 'belum selesai'. Kuil Ginkaku-ji, terkenal dengan paviliun peraknya. Sayangnya ketika proses pembangunan, mereka kekurangan uang untuk melapisi dinding paviliun dengan perak. Namun pengelola tetap mempertahankan nama paviliun perak. Bersama dengan paviliun emas kuil Kinkaku-ji, paviliun perak kuil Ginkaku-ji merupakan primadona wisata di Kyoto. Saya sempat membeli es krim matcha di sini, tapi harganya lebih mahal ¥50 dibandingkan ketika Adi beli di kawasan Arashiyama.

Pukul 15.40, kami berencana untuk kembali ke hostel dan mengakhiri perjalanan di Kyoto. Kami naik Raku-bus No. 100 ke Stasiun Kyoto. Raku-bus merupakan trayek bus di Kyoto yang melayani rute ke destinasi wisata populer di Kyoto. Ada tiga trayek, yaitu No. 100 dengan rute Stasiun Kyoto - Ginkaku-ji. Bus No. 101 dengan rute Stasiun Kyoto - Kinkaku-ji, dan Bus No. 102 dengan tujuan Kinkaku-ji - Ginkaku-ji. Ketika di jalan, Bus No. 100 melewati halte Gion, yang terkenal dengan kawasan Geisha. Teman saya mengajak saya untuk turun di halte ini dan melihat-lihat kawasan ini. Saya langsung mengiyakan dan kami segera turun di halte di depan Yasaka-jinja, sebuah kuil Shinto yang dulu disebut sebagai Gion-jinja.

Raku-bus No. 100

Interior Raku-bus

Gion terletak di kawasan Higashiyama. Setidaknya ada beberapa tempat yang menarik di kawasan ini, yaitu Kuil Kiyomizudera, sebuah kuil Buddha yang menjadi bagian dari Monumen Sejarah Kyoto Kuno dan ditasbihkan sebagai situs warisan budaya dunia (UNESCO World Heritage Site). Kiyomizudera didirikan pada awal periode Heian, tepatnya tahun 798. Namun bangunan yang saat ini berdiri dibangun pada tahun 1633 setelah adanya upaya restorasi oleh shogun kala itu, Tokugawa Iemitsu. Yang menarik, tidak ada satu pun paku yang digunakan saat pembangunan kuil ini. Di sini terdapat Kuil Jishu-jinja yang dipersembahkan bagi Okuninushino-Mikoto, dewa cinta dan perkawinan bangsa Jepang. Terdapat pula dua “batu cinta” yang terpisah jarak 18 meter satu sama lainnya.

Tempat lainnya yang menarik adalah Gion Corner dan Pontocho, di sebelah barat kawasan Higashiyama. Dahulu, banyak Maiko berlatih di kawasan ini untuk menjadi Geisha. Kami hanya berkeliling di Yasaka-jinja, lalu ke Taman Maruyama, sebuah ruang terbuka hijau dengan pemandangan yang mempesona. Jika bunga Sakura sedang bermekaran atau ketika musim gugur, pemandangannya lebih menarik lagi. Setelah itu kami ke Gion Corner. Teman saya berharap bisa melihat sekilas Maiko. Sayangnya, hal itu tidak terwujud. Ketika kami melintas di kawasan ini, waktu menunjukkan pukul 17.00, restoran dan bar baru buka. Mungkin jika kami menunggu beberapa saat lagi, mereka akan muncul. Sebagai pengobat rasa penasaran, banyak gadis yang mengenakan yukata berjalan-jalan di kawasan ini.

Yasaka-jinja

Taman Maruyama



Gion Corner

Hampir satu jam kami di Higashiyama. Setelah itu kami putuskan untuk makan malam di Sukiya dekat hostel setelah sebelumnya menumpang Raku-bus No. 100 ke Stasiun Kyoto. Di restoran Sukiya ini, saya kembali menemukan hal yang menarik. Pramuniaga di sini menggunakan seragam ketika bekerja, dan jika ia perempuan maka rambutnya harus digelung dan menggunakan topi. Rupanya jam 18.00 ketika kami tiba merupakan waktu untuk ganti shift. Salah seorang pramuniaga perempuan yang sedari siang bertugas mengakhiri tugasnya dan bersiap pulang. 

Untuk itu ia masuk ke ruangan kecil di samping tempat saya dan teman-teman makan. Saya pikir ia hanya ingin mengambil bahan makanan yang kurang. Saya terperanjat ketika keluar ia telah berganti pakaian dengan mode terkini. Rambutnya yang sebahu diwarnai pirang dan ditimpali topi cap yang sedang tren di kalangan anak muda. Ia mengenakan jaket jeans yang dipadu dengan rok mini dengan stocking hitam. Tidak lupa untuk memaksimalkan penampilannya ia memakai sepatu stilleto heel. Pramuniaga tersebut yang ketika menggunakan seragam sudah terlihat cantik, menjadi semakin menarik dan atraktif. 

Jika tidak melihatnya bekerja di restoran tersebut, muskil bagi seseorang untuk tahu dimana ia bekerja. Berbeda dengan di Indonesia, biasanya jika seorang karyawan berseragam, maka orang tersebut hanya akan menimpali seragam dengan jaket ketika pulang. Namun tidak di sini. Mereka meninggalkan seragam di kantor dan mengganti dengan pakaian yang diinginkan. Setelah pengalaman ini, saya tidak menilai negatif seorang perempuan hanya dari cara berpakaiannya. Jika ia nyaman dengan pakaian yang ia kenakan, saya dengan senang hati menghormatinya.

Selesai makan, kami berbelanja di mall Yodobashi, sebuah pusat perbelanjaan tidak jauh dari hostel kami. Saya yang tidak membawa banyak pakaian berencana untuk membeli pakaian. Kebetulan ada cabang Uniqlo di sini. Sedangkan Reza berkeliling di toko Yodobashi yang merupakan sentra kamera di Jepang dan Adi mencari sepatu Puma. Karena berpisah dan berjanji untuk bertemu kembali di hostel pukul 20.30.

Kyoto-Yodobashi

Di waktu yang telah ditentukan, kami bertemu kembali. Reza membeli charger untuk kameranya. Sedangkan Adi pulang dengan tangan hampa, karena ia menyimpan uangnya untuk berbelanja di Tokyo. Saya sendiri, puas dengan satu set pakaian. Kami lalu mengambil tas dan koper yang tadi pagi dititipkan di locker room seraya mengucapkan terima kasih atas pelayanan yang baik dan kemurahan hati resepsionis yang mengizinkan kami menitipkan tas seharian di locker room. Pukul 21.00, kami bergegas ke Stasiun Kyoto yang juga sebagai "terminal bus" antar kota antar prefektur di malam hari. Malam ini kami akan ke Tokyo menggunakan bus Willer Express.

Bus Willer Express merupakan sarana transportasi alternatif yang murah untuk bepergian jarak jauh antar kota di Jepang. Alternatif lain yang bisa digunakan adalah menggunakan kereta Shinkansen yang cukup mahal, bisa mencapai ¥13.000, namun hanya memakan waktu 2 jam. Atau menggunakan pesawat. Namun jika kami memilih moda transportasi pesawat terbang, kami harus kembali ke Kansai International Airport, lalu terbang ke Haneda International Airport atau Narita International Airport, sebelum melanjutkan dengan kereta ke pusat kota. Opsi ini selain mahal, juga memakan waktu lebih lama dibanding kereta. Kedua alternatif di atas juga mengharuskan kami untuk mengeluarkan biaya ekstra untuk penginapan satu malam lagi.

Perjalanan rute Kyoto – Tokyo dengan bus Willer Express seharga ¥4.500 per orang memakan waktu 7 jam untuk menempuh jarak 461 km, atau setara dengan jarak Jakarta – Yogyakarta. Karena jaringan jalan tol yang prima, waktu tempuh lebih cepat dibandingkan dengan waktu tempuh di Pulau Jawa. Kelebihannya, selain murah juga kami bisa tidur sepanjang perjalanan karena bus berangkat tengah malam dan tiba keesokan harinya. Kami menghemat biaya penginapan satu malam.

Kami diharuskan untuk check-in di loket Willer Express di sebelah barat Stasiun Kyoto pukul 23.25. Kami diberikan peta dan petunjuk ketika booking melalui Internet. Kami sampai di sana pukul 22.00. Tampak beberapa staf Willer Express sedang menyiapkan loket check-in dan beberapa penumpang mulai berdatangan menunggu jam pemberangkatan. Loket ini sebetulnya adalah loket temporer yang terbuat dari meja lipat. Staf menggunakan baju casual dan mengenakan seragam jaket pink sebagai identitas. Dengan tidak membuka loket permanen, perusahaan telah melakukan efisiensi karena mereka hanya bertugas beberapa jam saat pemberangkatan bus tengah malam.

Ketika kami menunggu loket bus tujuan Tokyo dibuka, saya kembali dibuat tercengang. Sebuah bus antar kota antar prefektur masuk ke area parkir Stasiun Kyoto. Yang membuat saya terheran-heran adalah ketika melihat sopirnya seorang wanita, dengan kondektur seorang pria paruh baya. Memang di Jakarta sudah jamak ditemukan jurumudi bus Transjakarta wanita. Tapi saya tidak pernah menemukan seorang wanita mengemudikan bus malam antar kota antar provinsi di Indonesia dengan kondektur pria. Jika di Indonesia gerakan emansipasi ramai dirayakan, di Jepang hal itu sudah lama dilakukan. Sudah hampir tengah malam di Kyoto dan kota ini tidak henti-hentinya membuat saya terpana.

Pukul 23.00, saya melakukan check-in dengan menunjukkan bukti pemesanan via Internet. 15 menit kemudian, bus Willer Express 252 tujuan Tokyo tiba dan kami segera naik ke dalam setelah menitipkan koper di bagasi dan menunjukkan nama kami dalam manifes yang dipegang sopir. Interior bus cukup nyaman dengan kursi yang dapat disandarkan serta tirai yang selalu tertutup. Pukul 23.25, bus meninggalkan Stasiun Kyoto menuju Tokyo. Saya akan merindukan Kyoto dan area Kansai.

(bersambung…)


Post a Comment