01 June 2013

Piknik Jepang 19 Mei 2013 - Osaka (Bagian 2)

Saya selesai makan pukul 13.00. Cuaca yang tadinya hujan rintik-rintik berubah menjadi hujan deras ketika kami di Kanal Dotonbori. Kami akhirnya berteduh di depan (ドン・キホーテ) Don Quijote. Kebetulan di tempat itu pula halte Tombori River Cruise, yaitu wahana naik perahu menyusuri kanal sambil diberikan penjelasan sejarah oleh seorang pemandu. Penjelasan tentu saja diberikan dalam bahasa Jepang. Perjalanan ini ditempuh sekitar 30 menit. Tadinya teman saja menolak karena cuaca hujan, tapi akhirnya saya berhasil membujuk mereka untuk ikut tur ini dengan perahu yang dilengkapi terpal.

Tombori River Cruise

Saat kami naik perahu, ada beberapa pengunjung Dotonbori yang ikut bersama kami, tapi semuanya warga negara asing. Tapi pemandu tetap menjelaskan dalam bahasa Jepang walaupun dia tahu tidak satupun yang mengerti maksud penjelasannya.

Pemandu Menjelaskan Sejarah Bangunan di Dotonbori

Glico Man. Maskot produsen permen terkemuka Jepang

Ketika turun, hujan sedikit reda menjadi gerimis. Kami segera bergegas ke stasiun Shinsaibashi untuk pergi ke salah satu tujuan utama perjalanan ini, Kastil Osaka. Ketika kami turun di stasiun Osaka Business Park, cuaca kembali menjadi hujan deras. Setengah menyesal tadi tidak membeli payung di Don Quijote karena saya pikir hanya hujan sebentar seperti di Indonesia. Saya salah, di bagian bumi ini, hujan bisa berlangsung sepanjang hari tanpa jeda. Seminggu sebelum berangkat, saya memantau cuaca kota-kota di Jepang yang akan kami kunjungi, dan memang ada peluang hujan di salah satu kota selama kami di sini.

Kastil Osaka

Jarak antara stasiun Osaka Business Park dengan Kastil Osaka ternyata cukup jauh, sekitar 1,5 km. Alhasil kami basah kuyup ketika tiba di loket pembelian tiket. Di loket, kami menyerahkan kupon Kansai Unlimited Pass bagian Kastil Osaka untuk ditukar dengan karcis yang harus diserahkan ke petugas di pintu masuk. Tak lupa sebelumnya kami menitipkan tas masing-masing di loket dengan biaya ¥100. 

Kastil Osaka merupakan simbol kekayaan dan kekuasaan 豊臣秀吉 (Hideyoshi Toyotomi) dan dibangun pada 1583 di atas bekas reruntuhan Kuil Hongaji. Ia berhasil menyatukan seluruh Jepang dengan memerintah pasukannya dari kastil ini. Pada masa itu, Kaisar masih tinggal di Kyoto. Ketika Toyotomi wafat, salah satu penasihat utamanya, Tokugawa Ieyasu ditunjuk menjadi Shogun dan memindahkan pusat pemerintahan ke Edo (Tokyo). Pada musim panas tahun 1615, Ieyasu menghancurkan keluarga Toyotomi dan membumihanguskan Kastil Osaka. Ia membangun kembali dan memiliki kastil tersebut hingga 1868 ketika jabatan shogun dihapus Kaisar. 

Pada tahun 1931, menara utama Kastil Osaka dibangun kembali dengan dana yang dikumpulkan dari masyarakat. Menara yang saat ini berdiri merupakan menara generasi ketiga yang menggabungkan arsitektur menara yang dibangun oleh Toyotomi dan dihancurkan oleh Ieyasu pada serangan tahun 1615 serta menara yang dibangun oleh Ieyasu sendiri namun terbakar habis akibat sambaran petir. Saat ini kastil difungsikan sebagai museum yang terbuka untuk umum.

Agar setiap pengunjung mengunjungi setiap lantai di kastil, pengelola kastil mempunyai ide brilian. Terdapat sebuah lift yang akan mengantarkan setiap pengunjung yang baru masuk ke kastil menuju lantai 7 atau lantai paling atas. Petugas di pintu masuk memastikan setiap pengunjung langsung masuk ke dalam lift ini. Di dalam lift ada seorang petugas yang mengoperasikan lift dan menjelaskan dalam bahasa Inggris jika kita bukan orang Jepang bahwa kita akan naik ke lantai paling atas dahulu lalu pengunjung akan turun melalui tangga ke lantai di bawahnya. Ia juga menjelaskan ada larangan mengambil foto di lantai 3 yang merupakan koleksi utama museum dan foto-fotonya dijual sebagai suvenir di lantai dasar. Saya kagum dengan solusi negara maju dan cara mereka mengimplementasikannya.

Di lantai 7, ketika keluar lift, pengunjung akan melihat pemandangan kota Osaka dilihat dari puncak kastil. Karena cuaca hujan dan kabut turun menyelimuti kota, hanya bangunan terdekat saja yang dapat dicocokkan letaknya dengan diorama yang tersedia. Di puncak kastil ini, saya merasa takjub dengan sejarah Jepang yang, bisa dikatakan, berdarah. Saya membayangkan berapa banyak pasukan Tokugawa Ieyasu yang menyerbu kastil ini pada musim panas tahun 1615, dan bagaimana pasukan Toyotomi berusaha mati-matian mempertahankan diri dan kehormatan, inci demi inci tanah di Kastil Osaka. Puas memandangi kota dan mengambil foto, serta kontemplasi, kami turun satu per satu lantai dan melihat koleksi yang ada di lantai tersebut hingga akhirnya sampai ke lantai dasar. Saya sempat melihat cinderamata yang ditawarkan, tapi harganya cukup tinggi. Saya perlu berhemat karena masih ada 5 hari di depan.

Ketika kami keluar dari bangunan kastil, waktu sudah menunjukkan pukul 15.30. Saya berencana mengunjungi Museum Sejarah Osaka yang terletak di seberang Kastil Osaka. Kami bergegas meninggalkan kastil karena waktu buka Museum Sejarah Osaka hanya sampai pukul 17.00. 

Cuaca hujan sejak siang meruntuhkan semangat kedua teman saya. Reza misalnya, dia ingin sekali berfoto levitasi dengan latar Kastil Osaka. Sedangkan Adi, karena ia membawa dua tas, cuaca yang terus hujan ditambah dengan suhu yang berkisar 20 - 23 di musim semi ini sama sekali tidak meringankan semangatnya.

Kami berjalan kami dari Kastil Osaka ke Museum Sejarah Osaka dan jarak 1,1 km ditempuh dalam waktu 15 menit, banyak juga pengunjung Kastil Osaka yang kemudian ke Museum Sejarah Osaka dan mereka berjalan bersama kami. Museum Sejarah Osaka terdiri dari 10 lantai dan terletak bersebelahan dengan kantor cabang NHK Osaka, bahkan mereka berbagi pintu masuk utama yang sama. Teman-teman saya berharap bisa bertemu aktris Jepang di sini. Tapi menurut saya, kecil sekali peluang seperti itu, dan andaikata mereka sedang berada di sana, kecil juga peluang mereka mau untuk diajak berfoto bersama. Dunia hiburan Jepang sangat menghargai eksklusifitas, jika penggemar ingin foto seorang aktris, penggemar tersebut dapat membeli koleksi album si artis di toko, bukan dengan cara foto bersama.

Sama seperti Kastil Osaka, kami harus naik lift dahulu hingga lantai teratas untuk kemudian turun ke lantai di bawahnya. Kami sempat menitipkan tas di loker koin, ¥500 tapi untuk seluruh tas. Bedanya, di Museum Sejarah Osaka kami turun menggunakan eskalator. Yang membedakan museum ini dengan museum yang ada di Kastil Osaka adalah jika museum Kastil Osaka hanya dikhususkan untuk koleksi terkait sejarah keluarga Toyotomi dan kastil itu sendiri, maka Museum Sejarah Osaka berusaha menjelaskan sejarah kota ini sejak zaman purbakala hingga modern. Usaha ini dirangkum dalam 10 lantai yang terdapat di museum.

Pelayan di Zaman Kekaisaran Kuno

Miniatur Kehidupan Kota Osaka Tempo Dulu

Suasana Kegiatan Ekonomi Osaka Tempo Dulu

Di lantai paling atas, saya menemukan sejarah perkembangan kota, sejak dari perkampungan kecil hingga zaman Sengoku, atau zaman pergolakan antara bangsawan, terus hingga menjadi kota modern yang diawali dengan Restorasi Meiji sampai saat ini. Museum juga menyinggung keluarga Toyotomi, bahkan menampilkan miniatur perkembangan kota dengan Kastil Osaka sebagai pusat ekonomi, budaya, dan pemerintahan. Di mueseum ini, Reza mengobati kekecewaannya dengan mengambil foto miniatur dan mempraktikkan keahliannya dalam fotografi. Adi memanfaatkan museum ini dengan banyak beristirahat karena kami jalan non stop sejak dari bandara tadi pagi. Kami berada di sana hingga museum tutup pukul 17.00. Setelah itu kami pergi ke daerah Teluk Osaka menggunakan kereta bawah tanah via stasiun Tanimachi Yonchome (4-chome) yang pintu masuknya di dekat jalan raya.

Mesin Jahit Singer

Televisi Toshiba Generasi Awal 

Radio National yang Banyak Juga ditemukan di Indonesia

Kawasan Teluk Osaka merupakan salah satu tujuan utama di Osaka, ketika kami tiba di stasiun Osakako hujan sudah berhenti tapi angin musim semi yang cukup dingin berhembus cukup kencang. Di kawasan ini ada beberapa atraksi utama, seperti Universal Studios Jepang, Osaka Aquarium Kaiyukan, Tempozan Market Place dan Tempozan Ferris Wheel. Universal Studios di Osaka merupakan salah satu dari dua Universal Studios di Asia, lainnya berada di Singapura. Kami tidak ke Universal Studios Jepang karena selain biaya masuknya cukup mahal, kami tidak punya cukup waktu untuk menikmati wahana di dalamnya. Osaka Aquarium Kaiyukan merupakan salah satu akuarium air laut terbesar di dunia, tapi tidak masuk dalam rencana perjalanan kami, karena selain tidak ditanggung oleh Kansai Unlimited Pass juga karena saya bisa menikmati akuarium ini secara virtual melalui Google Street View.

Osaka Aquarium Kaiyukan

Tujuan utama kami ke Teluk Osaka adalah ingin naik kapal Santa Maria. Sayang ketika kami tiba di pelabuhan sudah pukul 18.00, dan petugas mengatakan tidak ada lagi perjalanan di hari itu. Setengah kecewa, kami berjalan ke Tempozan Ferris Wheel. Jika berjalan sesuai rencana, kapal Santa Maria akan berkeliling teluk dan lewat di depan Universal Studios Jepang sambil menikmati suasana senja. Tapi karena cuaca hujan tadi, memang lebih baik jika kami tidak naik kapal ini.

Kapal Santa Maria

Tempozan Ferris Wheel adalah kincir bianglala raksasa dengan tinggi 112.5 meter. Pada tahun 1997-1999, kincir ini yang tertinggi di dunia sebelum dikalahkan 大観覧車 (Daikanransha, Tokyo), London Eye, Star of Nanchang dan Singapore Flyer. Perjalanan satu putaran memakan waktu 17 menit, tapi terasa lebih lama karena putaran berjalan pelan. Tidak banyak orang yang naik pada sore itu, mungkin karena cuaca hujan sejak siang tadi. Selama dalam rotasi, di dalam kereta dijelaskan melalui rekaman audio objek di sekitar teluk apa saja yang dapat terlihat oleh penumpang, misalnya jembatan penghubung antar pulau, pabrik pengolahan limbah, pelabuhan Osaka, dan lain sebagainya. Ketika kami akan naik, petugas menawarkan untuk mengambil foto kami dengan tambahan biaya ¥500. Kami menolak tawaran itu secara halus. Teman saya cukup kaget dengan penawaran itu. Rupanya kami masih gegar budaya, dan menghadapi Jepang di hari pertama ini dengan wak prasangka. Kami mengucapkan terima kasih ketika turun.

Osaka Aquarium Kaiyukan dan Tempozan Marketplace
Kincir Raksasa Tempozan

Pukul 19.00, kami beranjak ke hotel yang berlokasi dekat Stasiun Osaka. Naik kereta lokal dari Stasiun Osakako hingga Bentencho, lalu pindah naik JR Yamatoji Rapid Service ke Stasiun Osaka. Karena musim semi, di belahan bumi utara sini pukul 19.00 baru senja. Kami sampai di stasiun pukul 19.30. Namun, perjalanan kami belum berakhir malam itu. Masih ada satu tujuan terakhir yang ingin saya kunjungi yaitu Umeda Sky Building, salah satu bangunan tertinggi di kota Osaka. Arsitektur yang menarik dan taman gantungnya menjadi daya tarik utama gedung ini.

Tidak ada transportasi umum dari Stasiun Osaka ke Umeda Sky Building sehingga kami harus berjalan kaki ke sana sekitar 1 km. Cuaca sudah tidak hujan tapi suhu cukup dingin dan berangin malam itu, sekitar 14º C. Kami sudah kelelahan, tapi determinasi kami yang menggerakkan ke tujuan terakhir ini. Beruntung, taman gantung di gedung ini tutup pukul 22.00, sehingga kami masih punya cukup waktu.

Stasiun Osaka di Malam Hari

Untuk naik ke taman gantung, saya naik ke gedung yang terdekat dengan jalan lalu naik ke jembatan penghubung di lantai dua. Karena kurangnya papan petunjuk, cara terbaik adalah mengikuti pengunjung lainnya yang kecil kemungkinan mereka datang untuk bekerja di malam hari. Taktik ini berhasil dan kami tidak tersasar mencari pintu masuk. Setelah menyerahkan kupon ke petugas kami diberikan tiket untuk naik ke taman gantung. Lift berjalan cepat dan sebentar saya kami sudah tiba di lantai 40, berikutnya kami harus naik eskalator menuju taman gantung.

Suasana di Dalam Gedung Umeda Sky

Yang saya maksud sebagai taman gantung sebenarnya adalah jembatan yang menghubungkan kedua gedung Umeda Sky. Jembatan ini berbentuk aula bundar tempat pengunjung dapat menikmati pemandangan Kota Osaka dari atas. Pengelola gedung menyediakan beberapa kursi untuk digunakan oleh pengunjung. Dan ketika kami tiba, deretan kursi ini penuh oleh pasangan yang sedang kasmaran. Mayoritas memang banyak pasangan muda yang berkunjung ke tempat ini. Melihat realita ini, saya bergumam, mungkin masa depan Jepang tidak seburuk yang saya bayangkan sebelumnya.

Banyak Pasangan Muda Kencan di Gedung Umeda Sky

Puas berkeliling saya melihat ada lift yang menuju puncak gedung. Saya mencoba naik sendiri ketika teman saya beristirahat di kursi sebuah kafe. Pemandangan dari puncak sungguh mengagumkan karena terbuka dan hembusan angin malam langsung menerpa wajah saya. Cukup menyejukkan. Di sini saya bisa melihat pemandangan Kota Osaka tanpa terhalang kaca. Di sebelah utara, terlihat antrean pesawat yang akan mendarat di Osaka International Airport. Letaknya tidak jauh dari pusat kota ternyata. Di bawah tampak Sungai Yodo yang membelah kota dan bermuara di Teluk Osaka dibelah dengan Juso Bypass. Di sebelah selatan tampak kereta yang keluar masuk Stasiun Osaka. Di horizon tampak awan di pengunungan yang melingkupi kota tapi saya tidak tahu namanya. Walaupun malam, gulungan awan ini jelas terlihat dan tampak mempesona.

Suasana Kota Osaka di Malam Hari

Di puncak gedung saya juga mendapati sebuah tempat yang dipenuhi dengan gembok cinta. Banyak pasangan muda-mudi yang berniat mengunci hubungan mereka dengan sebuah simbol kunci yang digembok di tempat ini. Kuncinya sendiri bisa dibuang agar hubungan mereka abadi dan tidak lekang oleh waktu dan terpaan alam. Umeda Sky Building merupakan salah satu dari se kian banyak tempat serupa di dunia. Tapi ini merupakan kali pertama saya melihatnya secara langsung. Ketika saya di sini, ada sepasang muda mudi yang sedang memasang gembok tersebut di salah satu sudut. Gembok sendiri bisa dibeli di toko di lantai bawah seharga ¥500 per buah lengkap dengan nama mereka berdua.


Gembok Cinta

Sekitar pukul 21.00, kami memutuskan untuk ke mengakhiri perjalanan kami hari itu dan menuju ke hotel untuk istirahat. Kami sempat kesulitan mencari Hotel Kinki tempat kami menginap karena letaknya ternyata berada di kawasan pertokoan dan relatif tanpa petunjuk di depannya yang menunjukkan keberadaan sebuah hotel. Reza sempat bertanya ke orang yang lewat, namun kebanyakan hanya acuh atau memberitahu arah yang salah. Tampaknya hotel tersebut tidak terlalu terkenal atau mereka memang tidak mau diganggu oleh pertanyaan turis yang tidak bisa berbahasa Jepang. Setelah beberapa saat, kami berhasil menemukan hotel tersebut dan segera check-in.


 Hotel Kinki

Kamar Mandi dan Toilet

Hotel Kinki sebenarnya merupakan hotel bisnis, namun mereka juga menerima turis asing. Fasilitas yang diberikan juga cukup lengkap dan murah. Karena kami memilih kamar tidur gaya Jepang, maka kami tidur di atas tatami dan berselimutkan futon. Terdapat televisi, mesin pembuat kopi dan kamar mandi dalam. Disediakan pula yukata untuk tidur. Di Jepang, yang dihitung adalah per kepala tamu yang menginap. Jadi, untuk satu kamar kami membayar masing-masing ¥2.800. Adi tidur di kamar terpisah dan membayar ¥3.000. Selesailah sudah hari kedua kami di Jepang. Besok kami akan pergi ke kota berikutnya di daerah Kansai, yaitu Nara.



(bersambung)...

Post a Comment