01 June 2013

Piknik Jepang 19 Mei 2013 - Osaka (Bagian 1)

Pukul 05.00 pagi kami sudah bangun, fajar mulai tampak di ufuk Timur. Kansai International Airport juga sudah memulai aktivitasnya. Petugas yang berjaga di pintu menuju pesawat sudah mulai bersiap dan penumpang mulai berdatangan untuk penerbangan pagi. Kebetulan kami bermalam di depan pintu yang digunakan maskapai ANA untuk penerbangan ke Tokyo. Petugas memanggil penumpang yang akan berangkat ke Tokyo dengan membawa papan petunjuk dan dengan ramah menanyai satu per satu orang yang berada di dekat pintu mereka, termasuk kami yang sedang bersiap untuk memulai perjalanan ke Kota Osaka. Cara kru darat ANA yang sopan dan ramah ini memberikan pengalaman personal bagi penumpang. Saya pribadi lebih memilih cara ini ketimbang mengumumkan lewat pengeras suara yang terdengar seperti sebuah repertoir. Ketika kami pulang, saya juga melihat kru darat mereka memberikan layanan yang luar biasa bagi penumpangnya di Haneda International Airport. 

Untuk mandi, penumpang yang menginap di Kansai International Airport bisa menggunakan fasilitas yang tersedia, antara lain di KIX Airport Lounge, yang kebetulan berada di samping kami, atau shower umum di samping pusat informasi. Jika menggunakan KIX Airport Lounge, perlu mengeluarkan uang ¥500 untuk 15 menit. Saya menggunakan lounge ini untuk menyegarkan diri. Jika ingin mandi di sini, kita akan diberi keranjang yang berisi kunci beserta nomor bilik mandi, hair dryer (sepertinya pria Jepang suka menggunakan ini), dan koin. Cara penggunaannya, koin dimasukkan ke dalam shower yang super canggih menurut ukuran saya.

 KIX Airport Lounge

Pertama karena mereknya bilik shower Hitachi, yang dahulu merupakan produsen elektronik dan saat ini beralih menjadi produsen alat berat. Saya tidak menyangka mereka juga membuat bilik mandi. Ukurannya tidak besar, kira-kira hanya 1 x 1 x 2 meter, dan ada ruang ganti pakaian. Kedua kita harus memasukkan koin tersebut ke alat shower-nya dan penghitung waktu akan berjalan mundur. Shower tersebut dilengkapi air hangat yang dapat disetel tingkat kepanasannya. Hal yang unik, jika kita matikan aliran airnya, maka penghitung waktu juga berhenti, dan akan berjalan kembali jika air dihidupkan. Walaupun mahal, ternyata mereka jujur dalam melaksanakan usahanya. Sedangkan untuk berganti pakaian, tidak dibatasi waktu. Ketiga, saya juga mengamati lampu yang digunakan di ruang ganti pakaian ternyata bermerek Panasonic. Di Jepang, diversifikasi usaha perusahaan sangat luas dan mewarnai hampir seluruh aspek kehidupan sehari-hari.

Setelah selesai mandi, kami makan di マクドナルド (McDonald's). Cukup murah untuk paket sarapan yang di sana, sekitar ¥350 untuk Chicken Egg Muffin dan Coca Cola. Karena hari ini ulang tahun Reza, maka saya dan Adi ditraktir sarapan. Kami makan sambil mengamati orang yang lalu lalang. Sederhana, tapi cara yang bagus untuk menghindari gegar budaya.

Sekitar pukul 07.30, kami menuju pusat informasi untuk membeli Osaka Unlimited Pass harian. Harganya ¥2.000 per orang. Osaka Unlimited Pass terdiri dari tiket elektronik transportasi umum dan satu bundel kupon gratis ke objek wisata di Osaka. Kelebihan dari membeli Osaka Unlimited Pass adalah saya dapat gratis naik seluruh transportasi umum (kereta, subway, dan bus) selain yang dikelola oleh grup Japan Railway West (JR West), serta bebas masuk ke 28 objek wisata yang ada di Osaka, termasuk Osaka Castle, Tsutenkaku Tower, Tombori River Cruise, Osaka Museum of History, dan Umeda Sky Building, Tempozan Giant Ferris Wheel, dan lain sebagainya. Ada beragam penawaran menarik bagi turis, misalnya penawaran transportasi dan tiket masuk gratis di wilayah Kansai, seperti Kansai Thru Pass yang dapat digunakan di kota Osaka, Kobe dan Kyoto. JR juga mengeluarkan pass yang serupa, yaitu Kansai Area Pass. Yang membedakan, kita harus menggunakan jaringan transportasi kereta yang digunakan oleh JR West.

Pusat Informasi di Kansai International Airport

Namun di pusat informasi kami diberitahu petugas jika ingin digunakan pada hari yang sama, lebih baik membeli di loket Nankai Railway seharga ¥2.300. Loketnya terletak di seberang loket JR West. Memang lebih mahal karena termasuk tiket kereta dari Kansai International Airport ke pusat kota Osaka. Di situs Osaka Unlimited Pass memang tidak disebutkan adanya paket ini, sehingga kami bergegas ke loket stasiun Nankai dan membelinya dari petugas stasiun melalui loket pembelian karcis kereta. Petugas, walaupun dengan bahasa Inggris yang terbatas, sangat membantu kami dan ramah.

Loket Penjualan Tiket Nankai Railway dan Kansai Unlimited Pass

Karena banyak sekali tempat yang ingin kami kunjungi di Osaka, rencananya 10 tempat, kami segera masuk ke peron untuk naik kereta. Peron terletak di lantai dasar, sehingga kami harus menuruni eskalator. Tujuan pertama kami adalah Sumiyoshi Taisha, sebuah kuil Shinto di daerah Sumiyoshi yang jaraknya terdekat dari Kansai International Airport. Ketika kami sampai di peron, kereta belum tiba. Yang tersedia baru Nankai rapi:t yang bentuknya futuristik. Jika ingin naik ini, saya harus membeli reservasi tempat duduk tambahan di mesin reservasi. Karena tidak ingin mengeluarkan uang tambahan, kami memilih menunggu kereta Nankai Airport Express yang tanpa reservasi. 

Kereta Nankai rapi:t Limited Express seri 50000

Untuk menuju Sumiyoshi Taisha, kami menumpang Nankai Airport Express hingga stasiun Sakai, lalu dilanjutkan dengan kereta lokal (Nankai Main Local) hingga stasiun Sumiyoshitaisha. Perjalanan memakan waktu 48 menit karena jaraknya yang cukup jauh, yaitu 37,4 km.

Di stasiun Sumiyoshitaisha, petunjuk ke arah kuil hanya tersedia dalam bahasa Jepang. Karena tidak bisa membaca tulisan kanji yang rumit, kami sempat tersasar. Di samping kuil ada taman dan banyak keluarga yang sedang berakhir pekan dengan berjalan ke taman. Kami menelusuri taman tersebut hingga ke daerah pemukiman, dan karena tidak kunjung menemukan kuil, kami kembali ke arah stasiun. Di penyeberangan jalan, baru saya tanya ke seorang petugas letak kuil, ternyata ada di seberang stasiun. Kami salah arah tadi.

Musim Semi di Osaka

Sempat Tersesat, Sumiyoshi Taisha di Ujung Jalan Ini

Segera kami menyeberang jalan ke arah kuil, kami melihat moda transportasi umum yang unik, yaitu trem. Saya tahu Jakarta dulu dilayani dengan trem. Tapi melihat yang masih berfungsi dan terawat dengan baik, sungguh mengejutkan. Trem ini merupakan Jalur Uemachi, Hankai Tramway. Uniknya halte hanya berupa undakan di tengah jalan tempat penumpang turun dan menunggu trem selanjutnya.

Hankai Tramway

Halte Trem

Sumiyoshi Taisha merupakan kuil Sumiyoshi terpenting di seluruh Jepang, walaupun kuil tertua Sumiyoshi Chikuzen terletak di Hakata, Prefektur Fukuoka. Saya tidak paham mengenai ajaran Shinto atau signifikansi kuil ini, tapi menurut saya dari sisi arsitektur penataan kuil dan halaman sangat bagus. Dan untuk masuk tidak perlu membayar, cukup membungkuk sebagai penghormatan kepada dewa di pintu gerbang kuil. Puas berkeliling, kami melanjutkan ke tujuan berikutnya, 通天閣 (Tsutenkaku Tower).

Bangunan Utama Sumiyoshi Taisha


Di pelataran kuil saya membeli sebuah permen yang berbentuk buah anggur seharga ¥200. Setelah saya gigit, ternyata isinya anggur utuh! Saya berani berargumen ini termasuk jajanan yang menyehatkan, karena ketika saya beli, ada seorang anak yang juga sedang makan permen dari buah apel. Tentu harganya lebih mahal, yaitu ¥500.

Untuk menuju ke Tsutenkaku Tower, kami harus kembali ke stasiun Sumiyoshitaisha lalu naik kereta lokal ke stasiun Shinimamiya. Namun di stasiun ini terjadi masalah. Karcis terusan Reza terlipat. Karena karcis ini mirip dengan kartu telepon pada tahun 1990-an dan sensitif jika terjadi sedikit kerusakan. Karcis Reza sedikit terlipat sehingga ditolak oleh mesin tiket. Untungnya, petugas stasiun sigap dalam mengatasi masalah ini dengan memberikan kartu baru tanpa biaya dan tanpa memarahi keteledoran teman saya. Salut.

Tsutenkaku Tower dibangun dengan menggabungkan konsep antara Menara Eiffel dan Arc de Triomphe Paris sebagai pondasinya pada tahun 1912. Namun, untuk memenuhi kebutuhan angkatan perang Jepang pada Perang Dunia II, menara ini dihancurkan pada tahun 1943 untuk diambil bajanya. Menara ini kemudian dibangun kembali, namun bentuknya tidak lagi mirip dengan Menara Eiffel dan tanpa Arc de Triomphe. Maskot Tsutenkaku Tower yang terkenal adalah Billiken, seorang dewa keberuntungan yang digambarkan berpenampilan jenaka.

Tsutenkaku Tower

Di daerah Tennoji tempat Tsutenkaku Tower berlokasi, ada juga destinasi wisata lainnya, yaitu Kebun Binatang Tennoji. Keduanya bebas tiket masuk dengan kupon Kansai Unlimited Pass. Tapi karena keterbatasan waktu, kami hanya berencana ke Tsutenkaku Tower. Sayangnya, begitu kami tiba sekitar pukul 10.00, antrean untuk menuju ke atas menara sudah cukup panjang hingga di pinggir jalan. Reza dan Adi memilih untuk pergi ke tujuan berikutnya saja, yaitu daerah Dotonbori. Walaupun ternyata saya salah melihat, karena di belakang Tsutenkaku Tower ada cabang restoran yang terkenal, だるま (daruma), sehingga antreannya tampak menyatu.

Daerah Tennoji yang Ramai dengan Restoran dan Pedestrian

Antrean Pengunjung Tsutenkaku Tower

Dari Tennoji ke Dotonbori, kami kembali naik transportasi umum, kali ini naik kereta bawah tanah (subway) yang dioperasikan Pemerintah Kota Osaka, Sakaisuji Line hingga stasiun Kintetsunipponbashi. Karena bukan dioperasikan JR West, maka kami gratis naik ini. Ketika di dalam kereta, saya merasa betapa tertinggalnya transportasi umum di Indonesia, sambil membayangkan betapa nyamannya jika di dekat tempat tinggal ada akses kereta bawah tanah seperti ini.


Sebetulnya kawasan Dotonbori paling baik dikunjungi malam hari dengan dihiasi gemerlap lampu di sepanjang sisi Kanal Dotonbori. Tapi karena waktu kami sangat terbatas, tidak mengapa kami datang siang hari. Ketika kami tiba di daerah ini, sudah saatnya makan siang, dan saya segera mencari kudapan khas Osaka yang sering disebut sebagai pizza Jepang, yaitu お好み焼き(okonomiyaki). Di restoran lain, biasanya pembeli akan memasak sendiri okonomiyaki mereka, restoran akan menyediakan bahan-bahan yang diperlukan. Tapi karena saya tidak tahu cara memasak makanan ini, saya pilih restoran okonomiyaki yang dimasak oleh koki restoran dan saya tinggal makan.

Salah satu restoran okonomiyaki yang terenak di Osaka adalah 美津の(Mizuno). Ketika saya tiba, antrean pembeli sudah mengular karena sudah jam makan siang. Tadinya saya ingin mengajak kedua teman saya di sini, namun akhirnya mereka memilih makan di Yoshinoya.

Open Kitchen

Okonomiyaki Sedang Dimasak

Okonomiyaki yang dimasak di atas tungku dan yang siap disajikan

Konsep restoran ini adalah open kitchen, koki langsung memasak okonomiyaki di depan pelanggan. Karena pramusaji sudah mencatat menu yang dipesan, maka koki fokus memasak dan menghidangkan kepada pelanggan. Pelanggan duduk setengah lingkaran ke arah tungku dan meja makan. Okonomiyaki yang siap dihidangkan diletakkan oleh koki di pinggir tungku, supaya tetap hangat sembari pelanggan menghabiskan potongan yang ada di piring mereka. Karena AC restoran disetel maksimum, okonomiyaki akan cepat dingin dan rasanya menjadi tidak enak jika tidak dihangatkan dengan cara ini.

Harga satu porsi sekitar ¥1.000-2.000, tergantung dari menu yang digunakan. Saya memilih menu khas mereka, yaitu Mizunoyaki dan Yamaimoyaki seharga ¥2.400 termasuk jus jeruk. Rasanya menurut saya luar biasa dan belum pernah saya rasakan dari makanan Jepang di Indonesia. Saran saya lebih baik tidak makan okonomiyaki sendirian karena porsinya besar dan mengenyangkan. Seorang diri, saya membutuhkan waktu 1 jam 15 menit untuk menyelesaikan makan siang, tapi efeknya bertahan lama karena saya tidak makan malam lagi atau membeli kudapan khas Osaka lainnya, たこ焼き (takoyaki) akibat terlalu kenyang.

Karena terlalu lama di dalam saya merasa menyesal ke teman saya karena mereka menunggu saya terlalu lama di depan restoran dan di langit, cuaca berubah menjadi gerimis.

(bersambung)...
Post a Comment