22 March 2013

Piknik Makassar & Tana Toraja (16-18 Maret 2013) - Hari Pertama

Perjalanan ke kota Makassar dan Tana Toraja adalah perjalanan kedua saya di bulan Maret 2013, setelah seminggu sebelumnya ke Bandung dan akhir bulan Maret ke Penang, Malaysia. Sedianya, perjalanan ini dilakukan pada 23-25 Februari 2013, tapi karena maskapai Batavia Air dinyatakan Pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, maka tanggal keberangkatan diubah. Kami sempat was-was dengan kabar ini, dan bersiap untuk kemungkinan terburuk yaitu tidak jadi berangkat dan melakukan proses pengembalian tiket. Namun beruntung, maskapai Citilink bersedia mengangkut eks-penumpang Batavia Air untuk tujuan CGK-UPG tanpa biaya, selain retribusi untuk Angkasa Pura II sebesar Rp5.000,00 per penumpang.

Karena salah seorang teman tidak bisa pada tanggal awal, disepakati tanggal perjalanan kami ubah menjadi tanggal 16-18 Maret 2013. Perjalanan kami mulai dari Bandar Udara Internasional Soekarno - Hatta terminal 1C, tempat Citilink beroperasi. Proses check-in berjalan lancar, dan kami segera menuju ke ruang tunggu di gerbang C2. Tidak lama setelah kami masuk ruang tunggu, petugas mengumumkan penumpang untuk segera naik ke pesawat melalui garbarata di C6.

Pesawat Siap di Apron
Pesawat yang kami tumpangi

Setelah penumpang selesai embarkasi, pesawat mendapat lampu hijau dari Air Traffic Controller untuk terbang. Setelah penerbangan nyaman selama 2 jam 10 menit, akhirnya kami tiba di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan pukul 10 WITA. Kesan pertama saya ketika disembarkasi adalah bandara ini modern dengan desain yang sekilas mengingatkan pada Terminal 3 Bandar Udara Internasional Soekarno - Hatta.


Halte Bus Damri di Bandara Sultan Hasanuddin


Interior Bus Damri

Kami segera keluar dari terminal untuk naik Bus Damri menuju Kota Makassar. Tiket per orang jauh dekat dipatok Rp20.000,00. Penumpang dapat turun di manapun sepanjang rute, karena bus mengambil jalan umum (tidak lewat Jalan Tol Seksi Empat) dari bandara ke Halte Riburane. Bus cukup nyaman dengan pendingin udara dan tempat menaruh tas. Kami turun di kantor perwakilan Bus Litha & Co. di Jalan Urip Sumohardjo untuk membayar tiket bus malam ke Tana Toraja malam itu.



Kantor Perwakilan Perusahaan Otobus Litha & Co.


Loket Penjualan Tiket di Kantor Perwakilan Litha & Co.

Setelah membayar dan mendapatkan tiket bus Litha & Co., kami segera ke arah Lapangan Karebosi dengan naik pete-pete huruf I. Sampai Lapangan Karebosi sudah tengah hari, sehingga kami putuskan untuk makan Konro Bakar di Sop Konro Karebosi di Jl. Gunung Lompobattang No. 41, Makassar. Walaupun menyandang nama Karebosi, letak rumah makan ini agak tersembunyi. Jika kesulitan mencari, silakan bertanya di pos polisi lalu lintas di dekat persimpangan Karebosi Link.



Sop Konro Karebosi

Karena hari sudah siang, rencana untuk menyeberang ke Pulau Samalona kami tunda menjadi hari ketiga, dan sore itu kami habiskan di Benteng Somba Opu yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Gowa di abad 16. Dari Lapangan Karebosi, sebetulnya ada pete-pete langsung ke Jembatan Jeneberang, pintu masuk ke Benteng Somba Opu. Namun karena informasi yang disampaikan polisi yang kami tanyakan tidak jelas, kami harus mengambil dua kali pete-pete. Pertama adalah pete-pete huruf C yang melewati Jalan Cenderawasih dan disambung dengan huruf B ke Jembatan Jeneberang.

Kami sampai di Jembatan Jeneberang pukul 14.30, dan segera berjalan ke arah benteng. Namun tidak ada rambu yang menunjukkan arah benteng. Setelah bertanya pada penduduk lokal, diketahui bahwa benteng berada di sebelah Gowa Discovery Park, wahana wisata air, dan tempat konservasi burung. Kawasan Benteng Somba Opu berisi bangunan rumah adat dari masing-masing Kabupaten di Sulawesi Selatan. Mirip dengan konsep Taman Mini Indonesia Indah. Bangunan asli benteng sudah terbenam cukup dalam di tanah, dan hanya sedikit yang tersisa.

Setelah puas berkeliling, kami beranjak menuju Pantai Losari. Selain menunggu keberangkatan bus, kami juga ingin mencari tahu lokasi Fort Rotterdam dan tempat penyeberangan kapal ke Pulau Samalona. Kami kembali naik pete-pete huruf B dan turun di depan kawasan pantai yang ikonik tersebut. Tenda-tenda yang berjualan pisang epe mulai dibuka, kami sendiri hanya memesan Es Teler untuk menghilangkan dahaga akibat panasnya cuaca sore itu.

Setelah foto-foto dan mengecek lokasi Fort Rotterdam dan Dermaga Benteng Pannyua, kami makan di Mie Titi Datumuseng di Jl. Datumuseng No. 23 Makassar. Lokasi rumah makan mudah ditemukan karena berlokasi di Kawasan Kuliner Makassar, dan billboard terlihat jelas dari Pantai Losari. Mie yang dijual di sini mirip I Fu Mie dengan kuah kaldu kental yang nikmat. Rumah makan ini juga menyediakan menu nasi goreng sebagai alternatif.


Mie Titi Datumuseng

Selesai makan, kami menuju masjid untuk ibadah dan bersih-bersih. Setelah itu kembali ke kantor perwakilan bus Litha & Co. di Jl. Urip Sumohardjo, dengan mengambil rute pete-pete Pantai Losari - Lapangan Karebosi dan dilanjutkan dengan pete-pete tujuan Terminal Daya. Sampai kantor perwakilan jam 20.00 WITA. Bus sendiri baru berangkat pukul 21.30 WITA.

Bus yang kami naiki adalah bus AC dengan karoseri Adiputro Jetbus Masterpiece, dengan tarif Rp130.000,00/per orang. Bus ini sangat nyaman dengan suspensi udara, jarak antar kursi yang lebar dan kursi Adilla yang empuk. Lebarnya jarak antar kursi menyebabkan kapasitas total bus hanya 28 penumpang. Jauh berbeda dengan bus di Pulau Jawa yang berkapasitas lebih besar, namun dengan jarak antar kursi yang kecil.


Bus Litha & Co. LT-110 Makassar - Toraja

Makassar ke Tana Toraja berjarak 330 km, namun memakan waktu 9 jam. Hal ini disebabkan jalan trans Sulawesi yang ditempuh sempit dan hampir sebagian besar jalur pegunungan sehingga bus tidak bisa berjalan dengan cepat. Sebelum berangkat, masing-masing penumpang ditanyai tujuan akhir oleh kondektur di dalam manifes perjalanan. Kondektur selanjutnya akan menyampaikan kepada sopir dimana ia harus menghentikan bus untuk menurunkan penumpang. Cara ini menurut saya efisien, karena penumpang tidak perlu terjaga sepanjang perjalanan akibat khawatir tujuannya terlewat jika ia terlelap.

(bersambung...)
Post a Comment