02 February 2013

Piknik Vietnam Selatan 18 Januari 2013 - Cao Dai dan Củ Chi

Kami bangun pagi hari itu, dan setelah mandi kami sarapan di lantai 4 hostel. Sarapannya sederhana, hanya satu sisir buah pisang dan minuman, (es) teh maupun kopi. Saya mengambil buah pisang dan segelas teh. Richard mengambil hal yang sama, dan Mbak Tina hanya minum teh. Setelah selesai sarapan kami kembali ke kamar dan membereskan barang bawaan dan kemudian check-out. Pukul 07.30, kami telah selesai check-out dan menitipkan tas di sebelah resepsionis untuk kami ambil malam nanti. 

Karena bus yang menjemput kami untuk tour baru datang pukul 08.00, Mbak Tina dan Gege membeli Bánh Mì untuk sarapan, karena tidak semua teman sarapan di hotel, dan membeli air minum untuk di perjalanan nanti. Kebetulan hotel terletak dekat dengan sebuah pasar tradisional, dan di pinggir jalan ada seorang penjual Bánh MìBánh Mì merupakan makanan khas Vietnam yang sudah mendunia, berupa sandwich dengan lembaran daging, dan banyak sayuran di dalamnya. Harganya pun tidak mahal, hanya ₫16.000, atau sekitar Rp8.000 per porsi.

Kami lalu menunggu bus datang di depan hostel. Tepat pukul 08.00, seorang pemandu wisata datang menjemput kami. Tadinya saya membayangkan tour dilakukan dengan minivan, tapi ternyata kendaraan yang digunakan adalah bus besar dengan kapasitas penumpang 44 yang biasa digunakan untuk pariwisata di Indonesia. Kami lalu segera naik ke dalam bus dan menempati kursi yang masih kosong, yaitu di bagian depan. Pemandu wisata kami bernama Mr. Minh. Pria paruh baya berusia 67 tahun. Ia ramah pada peserta tour. Ia memperkenalkan diri dengan menceritakan pengalaman hidupnya. Mr. Minh lahir di Củ Chi, dan tumbuh besar di salah satu dari 28 Distrik yang ada di Saigon (nama Ho Chi Minh City dahulu), Vietnam Selatan. Semasa perang saudara, ia memihak Vietnam Selatan dan bertugas sebagai penerjemah tentara Amerika Serikat dan tentara Vietnam Selatan. Bersama pasukannya, ia bertugas untuk mencari letak Ho Chi Minh Trail yang digunakan pasukan Vietnam Utara sebagai rute pasukan dan logistik untuk menyerang Saigon, yang ujungnya adalah daerah Củ Chi, tempat ia lahir.

Saya pikir kami merupakan peserta tour yang terakhir kali dijemput, namun dugaan saya salah. Bus masih berkeliling di Ho Chi Minh City untuk menjemput beberapa peserta lainnya. Pukul 09.00, bus sempat mengisi bensin di salah satu SPBU. Penasaran, saya sempat melihat berapa biaya yang dikeluarkan oleh pengendara di sini. Ternyata, solar tidak disubsidi dan dijual ₫23.000/liter atau sekitar Rp11.500/liter. 

Setelah mengisi bahan bakar, akhirnya bus bertolak mengunjungi tempat pertama, yaitu Kuil Cao Dai. Kuil Cao Dai adalah agama asli Vietnam yang didirikan pada tahun 1926. Agama ini menggabungkan ajaran Buddha, Konfusius dan Kristiani. Kuil utama Cao Dai terletak di kota Tay Ninh, yang berjarak kurang lebih 100 km dari Ho Chi Minh City ke arah perbatasan Kamboja di sebelah barat. Saat ini, pemeluk Cao Dai di Vietnam berjumlah sekitar 5 juta orang. Walaupun bukan agama mayoritas di Vietnam, namun jumlahnya termasuk signifikan bagi suatu agama yang lahir dan tumbuh di Vietnam.

Perjalanan ke Tay Ninh memakan waktu kurang lebih 2 jam, dan diperkirakan sampai di sana sekitar tengah hari. Hal yang mengejutkan saya adalah cuaca cerah yang mengiringi perjalanan kami, dan tidak tampak kekacauan seperti yang kami alami di Tangerang dan sekitarnya. Rupanya cuaca di Indochina antitesis dari daerah khatulistiwa, karena bulan Januari adalah musim kemarau dengan suhu yang sejuk, berkisar antara 21º C di pagi hari dan 32º C di siang hari. Dalam perjalanan ke sana, kami sempat mampir di sebuah restoran untuk istirahat sejenak. Kami sempat turun dan melihat-lihat ke dalam restoran. Namun tidak ada yang menarik perhatian kami untuk dibeli. Kami beristirahat selama kurang lebih 20 menit.

Bus Pariwisata Yang Kami Gunakan

Pukul 11.50, kami tiba di area Kuil Cao Dai, tepat ketika waktu ibadah siang hari. Kami segera turun dari bus dan menuju kuil. Bagi saya agak aneh memang berkunjung ke suatu tempat peribadatan ketika umat agama tersebut sedang beribadah. Turis yang ingin melihat peribadatan tersebut ditempatkan di belakang dan di lantai dua kuil. Hanya saja jumlah pengunjung yang naik ke lantai dua ini dibatasi karena keterbatasan tempat. Dua penjaga ditempatkan di bawah anak tangga yang membawa pengunjung ke lantai dua untuk mencegah pengunjung terlalu banyak di atas.

Kuil Cao Dai

Pemeluk Cao Dai datang ke kuil dengan memakai baju áo dài, pakaian tradisional Vietnam yang berwarna serba putih. Mereka yang rumahnya dekat kuil datang berjalan kaki, sedangkan yang jauh datang menggunakan sepeda motor. Ketika saya perhatikan, ibadah mereka cukup unik. Umat pria dan wanita tidak dipisahkan satu sama lain dalam beribadah, mereka semua duduk bersila di lantai. Mereka duduk berkelompok membuat 3 atau 4 jajar. Seorang imam yang menggunakan áo dài dengan warna yang berbeda dan semacam topi duduk bersila paling depan untuk memimpin ibadah dengan membaca doa. Di belakangnya tampak beberapa orang dengan pakaian yang berwarna-warni, tapi saya tidak tahu jabatan mereka. Kemudian di belakang imam, umat menembangkan langgam doa mengulangi imam sambil diiringi oleh musik di belakang. Umat lalu membungkuk setelah doa dikumandangkan. Untuk memastikan ibadah berjalan tertib dan khusyuk di tengah banyaknya turis, beberapa petugas ditempatkan di dekat pintu masuk untuk memastikan pengunjung tertib.

Petugas Ketertiban Kuil Cao Dai

Desain interior kuil kental dengan ornamen naga yang melingkar di seluruh pilar-pilar kuil. Kaca-kaca patri dengan simbol segitiga dengan satu mata yang melihat ke dalam bangunan kuil menjadi hal lain yang khas. Penggunaan kaca patri ini mempunyai keuntungan karena cahaya siang dapat leluasa menerangi interior kuil. Atap kuil dilukis bak Kapel Sistina yang termahsyur itu, namun di Cao Dai yang tergambar adalah langit yang cerah dan bintang-bintang dengan sebuah bola yang dikelilingi seekor naga sebagai pusat alam semesta. Lantai kuil dibuat berjenjang dengan lantai tertinggi di bagian depan, lalu semakin menurun ke bagian belakang kuil. Dengan demikian, posisi imam lebih tinggi dari posisi umat di belakangnya. Terakhir posisi pemain musik yang mengiringi ibadah ada di dekat pintu masuk, dekat dengan tempat turis yang menyaksikan proses peribadatan.

Umat Cao Dai Beribadah di Dalam Kuil

Ibadah berlangsung kurang lebih 20 menit, dan setelah itu umat pulang ke rumah masing-masing dan sebagian peserta tour kembali ke bus. Sebagian lainnya mengelilingi kompleks kuil. Karena sedikitnya waktu yang tersedia, saya menyempatkan diri untuk mengambil foto fasad luar kuil dan bangunan di sekitarnya. Banyaknya stager bambu di samping kuil menandakan sedang dilakukan perbaikan yang cukup masif. Di bagian belakang kuil, terdapat semacam lumbung penyimpanan stok pangan dengan arsitektur campuran antara masa kolonial dengan modern. Di tengah-tengah antara kuil utama dengan bangunan di belakangnya, terdapat pagoda kecil di tengah taman kecil yang dipagari.

Ornamen di atas Kuil


Sedangkan di samping kuil utama yang memisahkannya dengan tempat parkir, sebuah taman yang lebih besar dengan tiga buah pagoda. Saya tidak mengerti maknanya, namun dengan langit biru yang menjadi latarnya. Taman tersebut tampak indah. Rerumputan tampak memantulkan sinar matahari yang tidak terasa terik. Bunga-bunga bermekaran beraneka warna. Puas mengambil foto, kami kembali ke bus. Ternyata kami sudah ditunggu Mr. Minh dan peserta lain karena hari semakin sore dan masih ada satu tempat lagi yang harus dikunjungi.

Taman di samping Kuil Cao Dai

Bus lalu berjalan ke destinasi terakhir hari ini, yaitu Terowongan Củ Chi dan menempuh rute kembali ke Ho Chi Minh City. Namun 15 menit kami berjalan, kami mampir di sebuah rumah makan untuk makan siang. Tentu biaya tour tidak termasuk makan siang ini, sehingga kami harus mengeluarkan biaya ekstra. Karena biaya hidup di sini murah, tidak ada yang keberatan dengan hal itu.

Untuk makan siang, saya memesan nasi dengan cumi-cumi asam manis dan minum khas Vietnam cà phê đá (es kopi). Memang bukan pasangan yang sesuai, namun karena belum pernah mencoba minuman tersebut, hal itu tidak menjadi masalah bagi saya. 5 orang dari kami memesan nasi goreng. Tapi jangan bayangkan wujudnya seperti yang jamak ditemui di Indonesia. Di sini, warnanya seperti nasi putih sedikit kekuningan dengan rasa tawar plus sayuran kacang panjang, acar, dan wortel. Mbak Tina memesan pho.

Setelah selesai makan, kami sempat beristirahat sejenak sembari menunggu peserta tour lain menyelesaikan makan siang mereka. Reza menyempatkan diri menukar Dollar AS ke Vietnam Dong di sebuah toko mas di samping restoran. Di Vietnam toko mas berfungsi ganda sebagai money changer. Tidak perlu khawatir, karena nilai tukarnya tidak jauh beda dengan money changer resmi. Setelah seluruh peserta tour kembali ke dalam bus, kami melanjutkan perjalanan ke Terowongan Củ Chi dan tiba sekitar pukul 15.00.

Setelah turun dari bus, Mr. Minh langsung membeli tiket untuk seluruh peserta tour. Kemudian kami segera masuk ke dalam kompleks Củ Chi. Ternyata, Mr. Minh juga berfungsi sebagai pemandu wisata di sini. Terowongan Củ Chi terletak di kawasan hutan karet yang merupakan ujung dari Ho Chi Minh Trail yang bermula dari Hanoi, lalu melintasi hutan di Laos, dan berakhir di desa Củ Chi. Tentara Vietnam Selatan yang dibantu tentara Amerika Serikat mendapati informasi bahwa desa tersebut menjadi pintu keluar tentara Vietkong, mereka lalu membombardir wilayah tersebut dengan bom dan senjata kimia. Untung menghindari serangan bom, warga dan tentara Vietkong lalu menggali jaringan terowongan bawah tanah. Mr. Minh mengatakan, warga tinggal di terowongan yang pengap ini hingga berbulan-bulan lamanya.

Karena lokasi desa yang terletak di tengah hutan karet dan bambu dan tidak terima dengan perlakuan tentara Amerika Serikat, warga desa Củ Chi dan tentara Vietkong membuat banyak jebakan tradisional yang memakan korban tidak sedikit di pihak lawan. Saya sempat bergidik melihat jebakan yang dipertontonkan oleh Mr. Minh dan petugas, membayangkan korban yang anggota tubuhnya tertebus runcing bambu atau besi yang telah dilumuri racun. Warga setempat juga pintar dalam memanfaatkan selongsong bom yang tidak meledak untuk dibuat persenjataan atau untuk dipakai sebagai alat kebutuhan sehari-hari selama bersembunyi di bawah tanah.

Pengunjung Coba Persembunyian Tentara Vietkong

Tour di Củ Chi memakan waktu sekitar hampir 2 jam, diselingi dengan istirahat di lapangan tembak yang digunakan pengelola untuk menawarkan 'sedikit pengalaman perang' kepada turis. Pengunjung dapat mencoba latihan menembak sasaran dengan senapan laras panjang dari era Perang Vietnam yang sudah direstorasi. Peluru dijual satuan. Saya tidak tertarik, sebagaimana saya tidak tertarik dengan konsep perang.

Setelah selesai tour di desa Củ Chi, kami semua naik ke bus, dan kembali ke Ho Chi Minh City. Perjalanan memakan waktu 1 jam, dan kami tiba di kantor Mr. Minh pukul 18.00. Turun dari bus, kami bertujuh makan di Quán Phở Quỳnh. Ferry, Richard dan Mbak Tina belum mencoba Phở di sini, mereka penasaran setelah kami ceritakan kelezatan rasanya semalam.

Selesai makan, kami kembali ke Lofi Inn Saigon untuk mengambil tas lalu menunggu sleeper bus yang akan membawa kami ke Mui Ne, sebuah kota kecil di tepi Laut China Selatan. Bus menjemput kami tepat waktu, kondektur yang datang ke resepsionis menanyakan mana penumpang yang akan ia bawa. Resepsionis lalu memberitahu kami yang lantas mengikuti kondektur tersebut ke bus. Sebelumnya kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya selama masa kami menginap yang sangat singkat.

Sejujurnya, saya sempat pesimis semalam, apakah bus yang dipesan benar sleeper bus? Atau bus biasa yang berisi tempat duduk. Syukurlah kekhawatiran saya tidak terbukti, bus yang datang sleeper bus, walaupun memang tidak sebagus yang saya bayangkan. Bagaimanapun kami puas dengan bus tersebut. Hal menarik yang saya temui ketika akan naik bus ini adalah kami harus melepaskan sepatu. Kondektur selanjutnya memberi kami masing-masing sebuah kantong plastik untuk menyimpan sepatu tersebut. Dengan demikian, bus selalu terjaga kebersihannya.

Setelah naik ke dalam, saya pilih tempat tidur di atas. Untuk mencegah penumpang agar tidak jatuh, di ranjang ini terdapat sabuk pengaman seperti yang terdapat di pesawat. Setelah menaruh tas di antara kedua kaki (tidak ada tempat lain untuk menaruh tas), saya segera memakai sabuk pengaman. Saya lalu mencoba tidur karena besok merupakan hari yang panjang.



(bersambung)...
Post a Comment