02 February 2013

Piknik Vietnam Selatan 17 Januari 2013 - Jakarta - Ho Chi Minh City

Piknik ini bermula ketika beberapa bulan sebelumnya saya diajak oleh teman lama, Richard, untuk menemani dia pergi ke Vietnam bersama dua orang teman lainnya dari Surabaya. Kebetulan waktu itu maskapai AirAsia Indonesia sedang melakukan promosi untuk penerbangan ke Ho Chi Minh City, Vietnam. Karena tawarannya menggiurkan saya menyetujui ajakan tersebut. Total saya mengeluarkan biaya Rp960.000,00 pp untuk tiket pesawat. Saya lebih beruntung karena ada penerbangan langsung dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Jika dari Bandar Udara Internasional Juanda, Richard dan teman-teman harus transit terlebih dahulu di Kuala Lumpur.

Dua bulan sebelum keberangkatan tiga orang teman saya semasa sekolah menengah, Reza, Gege dan Tiwi memutuskan untuk ikut dalam perjalanan kali ini. Teman-teman di Surabaya tidak keberatan ketika saya mengajak teman-teman. Jadilah perjalanan yang tadinya grup kecil menjadi rombongan yang terdiri atas tujuh orang. 

Saya, Reza dan Gege membuat janji untuk bertemu dengan Tiwi di Terminal 3 Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pukul 15.00 karena pesawat kami dijadwalkan berangkat pukul 16.35. Beberapa hari terakhir curah hujan sangat tinggi di Jakarta dan sekitarnya sehingga banyak lokasi yang terkena banjir dan genangan air, termasuk akses ke bandara. Kami sempat berpikir untuk membatalkan perjalanan ini jika keadaan semakin memburuk sehingga kami tidak bisa mencapai bandara tepat pada waktunya dan ditambah kekhawatiran jika cuaca di Vietnam sama dengan di Tangerang.

Cuaca masih gerimis ketika saya berangkat dari rumah pukul 12.00. Saya agak pesimis bisa mencapai bandara karena berita yang berkembang akses tol bandara terputus akibat banjir, praktis banjir mengepung Jakarta. Tapi untungnya ada alternatif jalan lain menuju bandara melalui pintu M1. Saya kembali beruntung karena sesaat keluar dari gang rumah, langsung mendapatkan taksi Pusaka (Blue Bird Group) yang sedang mengambil jalan pintas menghindari jalanan utama yang tergenang banjir.

Ketika saya masuk mobil dan mengatakan pada sopir bahwa tujuan saya adalah bandara, dia sempat keberatan karena ia baru saja dari bandara via jalan Tol Wiyoto Wiyono untuk mengantarkan penumpang dan terjebak banjir. Ia memaksa menerobos banjir dan untungnya tidak mogok karena air banjir sempat masuk ke dalam taksi, dan sekarang ia hanya ingin kembali ke pool taksi lalu pulang ke rumahnya. Tapi saya berusaha meyakinkan dia untuk mengantarkan kami sekali lagi dengan alasan kami tidak akan melewati jalan tol.

Sopir taksi setuju dengan tawaran saya tersebut dan saya pun menjemput Gege dan Reza di rumahnya masing-masing. Kami melewati rute Kunciran - Banjar Wijaya - Cipondoh - Tanah Tinggi - Bandara. Namun ketika melewati Kunciran terdapat genangan air yang cukup tinggi di jalan. Tapi sang sopir tidak gentar karena ia sudah berhasil melewati genangan air yang lebih tinggi dan jauh jika dibandingkan yang ini. Syukurlah kami berhasil melewati genangan tersebut tanpa masalah.

Selepas dari Kunciran, perjalanan lancar hingga Terminal 3, hanya hujan yang mengiringi sepanjang perjalanan kami. Pukul 15.00 kami tiba di depan terminal yang ramai sore itu. Setelah turun dari taksi, kami bertemu dengan Tiwi, dan tidak menunda waktu lagi kami segera ke imigrasi dan masuk ke ruang tunggu keberangkatan. Imigrasi maupun pemeriksaan dokumen AirAsia tidak ramai sore itu karena kami mendengar berita banjir semakin tinggi di Tol Wiyoto Wiyono. Mungkin banyak penumpang yang terpaksa membatalkan kepergiannya.

Pukul 16.05, kami masuk ke pesawat dan tepat pukul 16.30 pesawat lepas landas. Penumpang tidak ramai pada penerbangan sore ini, hanya mengisi sekitar 70% dari kapasitas pesawat. Penerbangan menempuh jarak 1.882 km dengan waktu tempuh 3 jam. Tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dengan Ho Chi Minh City. Tepat pukul 19.30, kami mendarat di Bandar Udara Internasional Tan Son Nhat yang terletak hanya 6 km dari pusat kota.

Hal pertama yang saya rasakan ketika mendarat di sini adalah cemas, ragu-ragu, namun di saat yang sama juga merasa bersemangat dan ingin tahu petualangan apa yang menanti saya di negara ini. Ini adalah pertama kalinya saya mengunjungi negara yang saya tidak mengerti sedikit pun bahasa dan budaya masyarakatnya. Saya hanya tahu bahwa dulu Saigon, sebelum diganti namanya menjadi Ho Chi Minh City, merupakan ibukota negara Republik Vietnam ketika perang saudara berkecamuk pada dekade 1960-an. Ketika akhirnya Republik Sosialis Vietnam mengalahkan mereka pada tahun 1975, namanya diubah menjadi Ho Chi Minh City, mengikuti nama salah satu tokoh politik Ho Chi Minh.

Setelah turun dari pesawat, kami segera menuju imigrasi. Bandara Tan Son Nhat ini cukup representatif untuk difungsikan sebagai pintu masuk ke Vietnam. Terlihat modern dan sudah dilengkapi dengan garbarata untuk keluar masuk pesawat. Papan petunjung dibuat dalam dua bahasa, yaitu bahasa Vietnam dan Inggris. Sehingga tidak sulit untuk menemukan arah.

Setelah selesai dari imigrasi, kami segera mencari taksi ke hostel di Distrik 1. Sesuai informasi yang kami dapatkan, jika ingin mendapatkan taksi yang benar (menggunakan argo dan aman dari pemerasan) maka kami harus naik dari terminal domestik. Letaknya tidak jauh, hanya bersebelahan dari terminal internasional tempat kedatangan kami. Setelah keluar dari terminal internasional berjalanlah ke arah kanan, ikuti jalan kira-kira 100 meter, sampailah di terminal kedatangan domestik. Kami lalu menunggu taksi di sini. Ternyata bukan kami saja turis asing yang menggunakan cara ini, beberapa wisatawan asing dari Eropa juga terlihat mengantri taksi di sini. Syukurlah kami melakukan riset sebelumnya.

Tips kedua dalam memilih taksi di sini adalah hanya naik taksi resmi dari dua perusahaan, Vinasun Taxi dan Saigon Taxi (grup Mailinh). Kedua perusahaan ini mirip dengan duopoli perusahaan taksi Blue Bird Group dan Express Group di Indonesia. Hal lain yang menarik adalah armada taksi di Vietnam tidak hanya terdiri atas Toyota Limo seperti di Indonesia, tapi juga Toyota Innova. Jika di Indonesia, Innova dijual sebagai kendaraan keluarga, di sini juga dimanfaatkan sebagai taksi.

Kebetulan kami mendapatkan Mailinh Taxi malam itu. Untuk mengatasi kendala bahasa dalam memberitahu arah sopir di mana kami menginap, saya sudah menyiapkan nama hotel dan alamatnya dalam secarik kertas. Saya menyerahkannya kepada petugas taksi yang berjaga di bandara, yang kemudian ia sampaikan kepada sopir taksi. Sopir langsung mengerti tujuannya setelah membaca alamat di kertas tersebut.

Pukul 20.45 kami tiba di Lofi Inn Saigon tempat kami menginap malam itu. Biaya taksi dari bandara ke Lofi Inn Saigon ₫125.000, namun saya bulatkan dengan tips menjadi ₫150.000 atau sekitar Rp75.000. Cukup mahal untuk jarak 8 km. Setelah check-in kami segera masuk kamar. Oleh resepsionis, kami diberitahu bahwa Richard dan teman-teman sedang keluar makan malam. Kami menaruh tas di kamar lalu keluar juga  untuk makan malam. Saya sempat bertanya ke resepsionis di mana tempat makan yang enak di sini. Resepsionis memberi saran kami harus mencoba Quán Phở Quỳnh seraya memberikan kami peta lokasinya.

Kami lalu keluar ke arah Quán Phở Quỳnh di Phạm Ngũ Lão. Namun belum jauh kami berjalan, Gege dan Tiwi tertarik untuk membeli sushi. Setelah selesai makan, kami lalu berkeliling sekitar taman Phạm Ngũ Lão, akhirnya kami sampai di Quán Phở Quỳnh. Toko ini menjual salah satu makanan khas Vietnam, yaitu Phở, berupa mie yang terbuat dari beras dengan daging dan kuah kaldu yang lezat. Namun saya tidak tahu daging yang mereka gunakan, karena itu saya ragu jika Phở halal.

Setelah makan, kami kembali ke hostel. Menurut resepsionis, Richard dan teman-temannya sudah kembali. Maka kami segera kembali ke kamar. Kamar kami dan Richard terpisah, walaupun Richard sudah memilih satu kamar besar ketika booking. Namun kami tidak terlalu kecewa karena pemilihan hostel ini lebih berat pada pertimbangan harga yang murah dan lokasi yang strategis.

Karena di perjalanan ini hanya saya dan Richard yang kenal satu sama lain, kami mengenalkan teman masing-masing. Teman yang dibawa oleh Richard adalah Mbak Tina dan Ferry. Saya mengenalkan Reza, Tiwi dan Gege kepada mereka. Saya dan Richard lalu membicarakan itinerary untuk besok. Karena saya yang bertugas dalam hal transportasi, saya menyarankan kami untuk segera mencari tour satu hari ke Củ Chi dan Cao Dai serta mencari sleeper bus ke Mui Ne malam harinya.

Alternatif pertama adalah menunggu biro wisata yang banyak tersebar di sepanjang jalan Phạm Ngũ Lão besok pagi, namun risikonya adalah kami baru bisa pergi dua hari lagi. Tapi ketika saya check-in tadi, saya melihat ada penawaran tour ke Củ Chi dan Cao Dai di meja resepsionis. Saya dan Richard sepakat untuk turun ke lantai dasar dan menemui resepsionis tersebut.

Keuntungan terbesar kami menginap di Lofi Inn Saigon adalah resepsionis yang sangat membantu dan tampaknya buka hingga larut malam. Kami mengutarakan niat kami untuk ikut tour ke Củ Chi dan Cao Dai kepada resepsionis dan juga meminta bantuannya untuk booking sleeper bus ke Mui Ne pada malam harinya. Ia bilang karena hari sudah larut ia akan mengusahakan kami bisa ikut tour esok pagi, karena biro wisata yang menyelenggarakan tour tersebut takutnya sudah tutup. Bagaimanapun, ia tetap berusaha dengan menelepon biro wisata tersebut saat itu juga.

Memang jika memesan tour di hostel sedikit lebih mahal ketimbang jika memesannya di biro wisata. Tapi keuntungannya adalah kami tidak perlu repot membandingkan biro wisata satu sama lain dan pemesanan cukup dilakukan melalui resepsionis hostel. Hampir semua hotel dan hostel di Ho Chi Minh City memberikan fasilitas ini kepada tamunya.

Kami diminta menunggu di kamar sembari dia mengusahakan kami untuk bisa ikut tour besok pagi. Saya dan Richard lalu berdiskusi untuk memikirkan rencana B jika kami tidak bisa ikut tour besok pagi. 20 menit kemudian, resepsionis mengetuk kamar kami dan memberitahukan kabar gembira. Ia telah memesan tour ke Củ Chi dan Cao Dai untuk 7 orang dan juga telah memesan sleeper bus ke Mui Ne malam harinya. Kami lalu diminta untuk membayar biaya tour dan bus saat itu juga dan memberitahukan bahwa kami harus siap esok pagi karena akan dijemput pukul 08.00. Setelah membayar, kami semua lalu kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

(bersambung)...
Post a Comment